INDEKS SAHAM FINANSIA (ISF)

May 7th, 2010

Halo sahabat FINANSIA :)

Mulai bulan April, FINANSIA Consulting akan memperkenalkan Indeks Saham Finansia (ISF), yang merupakan kumpulan dari 12 saham yang dipilih dengan kriteria tertentu serta memperhatikan prospek dari emiten tersebut.

Kriteria serta analisa yang digunakan untuk memilih saham yang menjadi anggota Indeks Saham Finansia diantaranya adalah:

  1. Menggunakan analisa Top Down Approach (Pendekatan Atas Bawah)
  2. Memperhatikan aspek likuiditas perdagangan (Volume & Frekuensi perdagangan)

Dengan menggunakan kriteria tersebut diharapkan kami dapat melakukan pemilihan saham–saham yang memiliki fundamental yang baik, sehingga dapat memberikan alternatif pilihan bagi sahabat Finansia untuk berinvestasi di Pasar Modal.

Berinvestasi dalam saham mengandung resiko yang tinggi, oleh karena itu perhatikan profil resiko sahabat Finansia sebelum melakukan investasi dalam saham.

Berikut adalah saham pilihan yang masuk dalam Indeks Saham Finansia:

No. Name Kode

1

PT Unilever Tbk UNVR

2

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk PTBA

3

PT Astra Agro Lestari Tbk AALI

4

PT Indofood Sukses Makmur Tbk INDF

5

PT Aneka Tambang Tbk ANTM

6

PT Bank Tabungan Negara Tbk BBTN

7

PT Sampoerna Agro Tbk SGRO

8

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk RALS

9

PT Berlian Laju Tanker Tbk BLTA

10

PT Adhi Karya Tbk ADHI

11

PT Astra Graphia Tbk ASGR

12

PT Panin Sekuritas Tbk PANS

Indeks Saham Finansia pertama kali diterbitkan tanggal 1 Januari 2010 dengan nilai 100. Pada akhir bulan April Indeks Saham Finansia memiliki nilai 116,07 yang berarti dalam empat bulan ISF telah naik sebesar 16,07%. Dengan periode yang sama IHSG sebagai benchmark bursa saham yang utama meningkat sebesar 17,24%.

Tanggal

IHSG

ISF

1-Jan-10

2,534.36

100.00

30-Apr-10

2,971.25

116.07

Dilihat dari selisih kenaikan IHSG dibandingkan dengan kenaikan ISF selama periode Januari sampai April 2010 sebesar 1,17% , ISF masih menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini dikarenakan IHSG terdiri dari banyak saham, saat ini perusahaan yang listing di bursa mencapai sekitar 400 perusahaan. Tentu sahabat Finansia dapat membayangkan berapa dana yang diinvestasikan pada sekitar 400 saham untuk dapat menikmati pertumbuhan IHSG sebesar 17,24% ,

Berikut adalah Grafik ISF bulan Januari 2010 sd April 2010:

Grafik ISF Jan - Apr 2010

Untuk selanjutnya, Indeks Saham Finansia (ISF) akan kami posting pada menu HOT TOPIC.

Selamat Berinvestasi!

Salam,
Tim FINANSIA Consulting

Informasi lebih lanjut tentang ISF, silakan menguhungi:

MULYONO PUTRO
mulyono@finansiaconsulting.com
mulyonoputro@gmail.com

RESOLUSI KEUANGAN 2010

December 10th, 2009

Bicara tentang masalah keuangan, semua pasti mengalami. Namun memang sepertinya masalah itu akan berbeda dialami tiap orang bergantung dari banyak hal yang salah satunya adalah status. Seorang yang lajang atau memutuskan lajang sepertinya memiliki masalah keuangan yang berbeda dengan yang sudah menikah. Yang sudah menikah juga sepertinya berbeda antara yang telah lama dengan yang baru menikah.

Tapi sebenarnya kalau bicara tentang masalah keuangan, masalah utamanya sama saja. Intinya adalah selalu terbatasnya penghasilan atau dana yang ada untuk memenuhi seluruh pengeluaran yang ingin dipenuhi. Dan katanya yang lajang pasti lebih mudah menangani keuangannya,“Kan hanya dipake sendiri dan ngga ada tanggungan lain.” Tapi yang lajang dengan yakin juga akan berkata,”Siapa bilang, yang nikah malah lebih enak, kan penghasilannya dari dua sumber jadi lebih mudah ngaturnya, bisa diskusi lagi dengan pasangannya.”

Kita belum membahas mereka yang baru menikah dengan mereka yang telah memiliki anak. Pasti anggapannya akan sama yaitu yang tidak punya anak lebih mudah mengatur uangnya daripada yang punya anak. Tapi apa bener? Bisa aja kan yang tidak punya anak akan berkata “Tau ngga karena ngga punya anak, uang kami berdua hanya dipake untuk senang-senang jadi ngga ada tanggung jawab sama sekali. Akhirnya ngga ada tabungan deh.”

Terlepas dari itu semua, bagaimana keuangan Anda dengan apapun statusnya tahun ini? apakah merasa lebih baik atau malah lebih kacau? Kalau lebih kacau mungkin Anda perlu membuat resolusi baru tentang pengelolaan keuangan di tahun 2010 ini mungkin uraian di bawah bisa sebagai pegangan :

Wanita Lajang

Kenyataannya :

Wanita lajang biasanya memiliki satu sumber keuangan yaitu dirinya sendiri (kecuali kalau masih disubsidi oleh orang tua). Karena statusnya tadi, wanita lajang sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk menanggung orang lain. Dan karena lajang sudah pasti dia akan lebih bebas untuk menggunakan uang yang dimilikinya untuk hal-hal yang bersifat pribadi bagi dirinya.

Kelebihannya :

Bebas menggunakan uang yang dimiliki karena uang tersebut 100% hasil kerja keras yang ia lakukan. Dengan statusnya sebagai lajang ia sebenarnya tidak menanggung orang lain jadi tidak ada “dosa” untuk menghabiskan uang yang dimilikinya. Jadi belanjalah dengan tenang.

Hati-hati :

Mumpung lajang, ngga ada tanggungan maka merasa bebas menggunakan uangnya tanpa harus mendengarkan pendapat orang lain, sering kali terjadi pengeluaran menjadi tidak terkontrol sehingga pengeluaran menjadi lebih besar daripada pemasukan. Akibatnya adalah utang yang menumpuk, investasi tidak terpikirkan dan proteksi yang terabaikan.

Resolusi:

Menjadi lajang memang menyenangkan karena bebas menggunakan uang yang dimiliki tanpa harus memikirkan orang lain. Uang yang 100% di miliki juga boleh dan sah saja 100% dibelanjakan. Namun sering kali saking bebasnya untuk menyenangkan diri sendiri, sampai melupakan diri sendiri dimasa depan. Akibatnya tiap bulan penghasilan hanya habis untuk utang dan tidak memiliki investasi maupun proteksi untuk masa depan. Memiliki utang asalkan besarannya wajar (cicilannya maksimal 30% dari penghasilan) boleh saja.Tapi kalau lebih besar dari itu, prioritaskan penyelesaiaannya dahulu. Setelah itu mulailah untuk berinvestasi sedikit demi sedikit. Tujuannya bukan untuk kaya, tapi menjamin hidup kita dimasa depan apapun itu statusnya kelak. Kalau tetap lajang, minimal Anda akan menjadi lajang yang mandiri tidak tergantung orang lain dimasa tua. Kalau memutuskan menikah, maka akan menjadi pasangan yang seimbang karena memiliki modal bukan sekedar setor badan. Proteksi untuk mereka yang tidak punya tanggungan mungkin tidak perlu, tapi untuk lajang yang memiliki tanggungan, misalnya memiliki anak, menanggung orang tua atau keluarga, maka proteksi khususnya jiwa tetap harus.

Akan menikah

Kenyataan :

Mereka yang akan menikah adalah status lanjutan dari si lajang. Pada saat ini sudah ada sedikit transisi dari punya uang sendiri menjadi punya uang sendiri tapi mulai harus memikirkan orang lain.

Kelebihan :

Sudah mulai memikirkan masa depan, minimal sudah seddikit menabung untuk biaya menikah kelak. Mimpi untuk menikah dengan suasana serba merah dan dilaksanakan di salah satu pantai di bali pasti perlu duit bener ngga? Jadi sekarang uangnya tidak lagi semua dipakai untuk hura-hura dan konsumtif.

Hati-hati

Saat ini adalah saat berat, disaat rekan lain yang belum akan menikah bebas ngafe anda hanya bisa berkata maaf ngga ikutan, saat mereka belanja “sale” di mall Anda hanya bisa menjadi teman.Mungkin juga sebagian dana sudah menjadi komitmen bersama si calon untuk dialihkan untuk tabungan bersama.

Resolusi :

Untuk mereka yang akan menikah, memang hal ini cukup berat. Tidak boleh bebas mengeluarkan uang padahal menjadi istri juga belum. Mau bebas mengeluarkan uang tidak mungkin masa mau nikah cuma setor badan dan doa doang ngga sedikitpun membantu keuangan si calon? Lumayan kalau tajir kalau ngga bagaimana? he he. Jadi kalau Anda akan menikah tahun depan, mulailah atur keuangan dengan mencicil utang Anda lebih besar,dan usahakan selesai pada saat menikah kelak. Ngga lucu kan kalau menikah yang sebenarnya adalah penyatuan 2 pribadi menjadi penyatuan 2 utang. Mulai sedikit berinvestasi untuk persiapan bila Tuhan memberi titipan keturunan dengan cepat. Memang sih itu menjadi tanggung jawab suami, tapi kalau suami hanya mampu kasi tanggung jawab sampai kamar bersalin kelas 1, mungkin dengan ditambah tabungan Anda bisa masuk kelas VIP asyik kan ya. O ya, ngga usah latah buat rekening bersama kalau masih belum pasti ya (belum pasti waktunya apalagi orangnya), kecuali kalau semuanya udah pasti.

Baru menikah

Kenyataan :

Wuihh akhirnya, Saat ini adalah saat dimana semuanya serba indah, dan segalanya menjadi milik bersama. Bahkan mungkin uang yang dulunya menjadi milik sendiri-sendiri menjadi milik bersama. Pokoknya semua harus sama-sama

Kelebihan :

Punya dua sumber pemasukan, yang pastinya lebih besar dibandingkan saat masih lajang. Beberapa pasangan biasanya mempercayakan keauangan kepada pihak wanita.

Hati-hati :

Pengeluaran yang dulu hanya pengeluaran pribadi, sekarang menjadi pengeluaran keluarga.Untuk memegang seluruh pemasukan berarti beban dan tanggung jawabnya lebih berat. Karena harus bisa memenuhi keinginan yang tidak terbatas dengan hasil yang tidak terbatas. Kadangkala suami ngga percaya lo kalau cabe itu mahal.

Resolusi :

Pengeluaran sekarang berfokus menjadi pengeluaran bersama yaitu pengeluaran keluarga.Mulailah menabung dan investasi untuk nama keluarga. misalnya persiapan pensiun, biaya bersalin, rumah dan sebagainya. Lupakan dulu plesir ke luar negeri bila yang pokok belum dialokasikan. Untuk mereka yang ternyata langsung di percaya mendapatkan titipan keturunan, mulailah berhitung untuk investasi bagi biaya pendidikan si kecil. Makin cepat dimulai pasti makin baik karena kita bisa pilih produk yang memberi hasil besar, juga cicilannya tidak begitu banyak karena jangka waktunya sangat panjang. Jangan lupakan asuransi khususnya untuk anggota keluarga yang berperan pada keuangan keluarga. kalau Ayah yang bekerja dan ibu tidak bekerja maka asuransinya atas nama ayah dan jumlah uang pertanggungan harus cukup. Demikan sebaliknya bila ibu bekerja dan Ayah tidak. Kalau kedua-duanya bekerja, maka keduanya harus sama sama memiliki uang pertanggungan yang cukup. Berutang masih boleh dilakukan, dengan syarat usahakan untuk berhutang barang yang keluarga butuhkan bukan hanya Anda dan suami.

Menikah dengan anak (Ibu)

Kenyataan :

Saat ini keluarga menjadi lengkap dengan hadirnya keturunan. Pengeluaran sekarang bukan hanya untuk si ayah dan ibu saja, tapi sudah ada anggota keluarga baru yaitu anak yang juga menjadi tanggungan baik itu sekedar pengeluaran harian maupun investasi dan proteksinya.

Kelebihan :

Dengan makin banyaknya anggota keluarga berarti tanggung jawab juga makin besar maka uang tidak lagi digunakan untuk tujuan yang konsumtif.

Hati-hati :

Makin banyak anggota keluarga, makin besar pengeluarannya, maka kalau tidak pintar mengelola dan membatasi pengeluaran kita maka jangan heran kalau utang bisa manjadi besar.

Resolusi :

Pengeluaran Anda saat ini adalah pengeluaran keluarga besar (ayah ibu dan anak). untuk itu pengelolaannya menjadi sedikit lebih hati-hati. Sulit sih tidak, tapi memang harus memiliki prioritas yang tepat. Untuk mereka yang belum punya rumah, saatnya menjadikan rumah sebagai prioritas. Banyak orang terlena dan menunda untuk membeli rumah dengan alasan belum ada yang pas dan anak masih kecil. Padahal kalau anak makin besar akan lebih sulit terwujud keinginan tadi karena biaya untuk anak menjadi jauh lebih besar. Biaya sekolah, kebutuhan harian menjadi terus bertambah. Jadi mumpung Anda dan suami masih muda, dan anak masih kecil mulailah untuk mendapatkan rumah walaupun itu utang karena saat anak masih kecil cicilan untuk investasi biaya sekolahnya masih sangat kecil, sehingga masih mungkin untuk mencicil utang rumah. Untuk proteksi, tetap harus dimiliki dan dievaluasi, karena dengan makin banyaknya tanggungan sebaiknya uang pertanggungannya juga harus makin tinggi.

Salam,

EKO ENDARTO, RFA
Financial Planner
eko@finansiaconsulting.com
ekoendarto@gmail.com

JANGAN ASAL AMBIL PROTEKSI

October 27th, 2009

Asuransi ini memberikan uang petanggungan sampai dengan 100 juta pak, dan perlindungannya berlaku sampai dengan Anda berusia 99 tahun,” demikian sepenggal percakapan saya dengan agen asuransi yang menawarkan produknya kepada saya.

Memiliki proteksi adalah salah satu kelengkapan mutlak dalam perencanaan keuangan. Rencana investasi yang sudah sempurna tidak akan lengkap tanpa adanya proteksi. Mengapa? Sebab adalah sia-sia suatu investasi bila ternyata setelah susah payah, hasil investasi yang diperoleh habis untuk menutupi segala risiko yang terjadi pada kita.

Apapun yang menjadi pilihan, baik itu berupa proteksi yang murni atau proteksi dengan tambahan investasi, keduanya tidak menjadi masalah karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Namun demikian, jangan sampai salah dalam mengambil proteksi! Percuma Anda mengantisipasi risiko dengan proteksi bila ternyata proteksi yang didapat tidak berguna saat dibutuhkan. Nah, berikut ini tips yang bisa dijadikan dasar agar tidak asal memilih asuransi.

  • Pilih sesuai kebutuhan

Ini adalah saran awal dalam mengambil proteksi. Kayaknya kalimat ini sangat mudah, karena pasti semua orang butuh proteksi atau perlindungan. Namun apakah benar tidak ada yang salah dalam memutuskan mengambil asuransi?

Kita ambil contoh kasus, seorang ibu memutuskan untuk mengambil asuransi kesehatan untuk suaminya yang memang menjadi tulang punggung utama di keluarga sebagai sumber nafkah. Kalau kita hanya baca sekilas, sepertinya tidak ada yang salah dengan pilihan si ibu. Tapi coba kita bahas lagi lebih dalam. Apakah proteksi yang dipilih si Ibu sudah sesuai dengan kebutuhan? Apa artinya? Begini, proteksi memang benar melindungi, tapi ini bisa diterima bila si penerima manfaat memang tidak memiliki proteksi dari tempat lain. Jadi kalau misalnya si Bapak mendapatkan proteksi dari kantornya, maka yang dilakukan si Ibu adalah suatu kesalahan karena risiko yang diterima si bapak telah tercover oleh perusahaan tempatnya bernaung dan pihak asuransi tidak akan mau menanggung risiko itu lagi. Jadi kalau si Ibu mau membuat asuransi untuk si Bapak, mungkin dia tidak mengambil proteksi dengan skim penggantian, tapi dengan skim santunan karena skim santunan bersifat seperti membantu bukan memindahkan risiko.

Banyak orang juga salah mengambil asuransi kerugian. Beberapa orang mengambil asuransi hanya berdasarkan kemauan si penjual atau agen bukan kebutuhannya. Misalnya asuransi kerugian untuk rumah. Biasanya si agen tidak hanya menjual asuransi kebakaran tapi juga tambahan lainnya misalnya risiko kebanjiran. Beberapa dari kita tidak sadar apakah itu kita butuhkan atau tidak. Bila tempat tinggal kita terletak cukup tinggi dan sejarah membuktikan bahwa lokasi tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terkena banjir, tambahan klausa risiko banjir tidak perlu diambil.

  • Perhitungkan untuk yang ditinggalkan bukan untuk Anda

Seorang peserta seminar pernah bertanya apakah dirinya sebagai seorang bujangan perlu untuk mengambil asuransi jiwa. Asuransi dibentuk sebagai sarana pengalihan risiko kepada perusahaan penyedia jasa perlindungan dalam hal ini pihak asuransi bila terjadi risiko atas nama si klien. Kalau berbicara asuransi jiwa, maka yang menerima manfaat atas perlindungan jiwa bukanlan klien yang namanya tercantum pada polis, tapi pewaris atau penerima manfaat atas risiko tersebut.

Jadi kalau Anda bertanya apakah seorang bujangan butuh asuransi? Tentu jawabannya tergantung apakah si bujangan tadi memiliki tanggungan atau tidak. Bila si bujangan sehari-harinya menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya dalam hal ini mungkin ayah, ibu dan adik atau kakaknya, maka dia memamg butuh yang namanya asuransi jiwa. Tapi kalau dia sehari-harinya tidak menjadi tangungan keluaganya, maka asuransi jiwa tidak dibutuhkan oleh mereka yang bujangan.

Demikian juga untuk anak-anak. Ada beberapa keluarga membuatkan asuransi jiwa untuk anaknya. Kalau dibilang salah sih tidak, tapi tidak tepat. Karena seperti juga bujangan, anak-anak tersebut secara ekonomi bisa dikatakan tidak memiliki nilai ekonomii karena bila si anak tidak ada, ekonomi yang ditinggalkan tidak akan mengalami masalah. Jadi untuk si anak, daripada asuransi jiwa, mungkin lebih baik ambil asuransi kesehatan atau pendidikan.

Pertanyaan berikutnya adalah, berapa angka pertanggungannya? Tentunya harus diperhitungkan berapa besar kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Usahakan agar bisa memenuhi kebutuhan bulanan mereka seperti saat si penanggung tersebut masih ada.

  • Sesuaikan dengan jamannya

Nah, ini juga yang sering salah. Banyak orang mengambil asuransi hanya sekali dan kemudian sudah merasa asuransi itu sudah cukup. Seperti cerita di awal, uang pertanggungan Rp100 juta memang saat ini banyak dan cukup. Tapi bagaimana bila risiko terjadi bukan saat ini tapi 20 tahun ke depan? Apa jadinya dengan uang 100 juta tadi? Anda pasti bisa menjawabnya.

Jadi dalam mengambil asuransi harus diperhitungkan dengan benar. Sesuaikan dengan jamannya dan selalu dilakukan evaluasi apakah nilai pertanggungan tersebut mencukupi atau tidak kelak bila terjadi risiko. Mungkin Anda akan bertanya apakah saya berarti harus mengambil asuransi besok-besok saja dan bukan sekarang? Jawabannya: salah! Mengapa? Karena risiko tidak bisa kita duga maka makin cepat diambil akan makin baik. Bagaimana kalau tidak cukup? Nah ini yang mungkin tidak kita mengerti, seharusnya asuransi memang diambil secara berkesinambungan misalnya saat ini di ambil, bisa jadi 3 tahun ke depan Anda akan mengambil lagi untuk menambah nilai uang petanggungan yang sudah Anda ambil 3 tahun lalu karena nilainya sudah tidak sesuai lagi. Jadi jangan heran kalau orang punya beberapa polis asuransi. Bukan karena tidak mengerti, tapi bisa jadi karena mereka harus menyesuaikan dengan jamannya.

Kesimpulan

Proteksi adalah bagian dari perencanaan keuangan. Rencana yang baik tetap saja akan menjadi suatu kesia-siaan bila tidak ada proteksi yang menjamin kelangsungan rencana tersebut bisa tetap jalan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Tapi proteksi yang diambil juga jangan asal, tiga hal mudah bisa menjadi pegangan, yaitu:

  1. Ambil sesuai kebutuhan,
  2. Perhitungkan untuk mereka yang membutuhkan, dan
  3. Sesuaikan dengan jamannya.

Mudah bukan?

Salam,
Eko Endarto, RFA
Financial Planner
eko@finansiaconsulting.com

BISNIS PULSA SELALU UNTUNG?

September 9th, 2009

Sudah hampir 1 tahun ini dunia mengalami krisis monitor babak (konon katanya) kedua. Apakah Anda merasakan dampaknya? Mungkin sebagian besar menjawab ‘ya’ dan sebagian kecil menjawabnya ‘tidak’. Saya pun ikut mengamini yang mayoritas. Bohong kalau saya tidak merasakannya. “Masa sich Cak?”, sanggah beberapa teman. “Kan pulsa tetap dibutuhkan orang?” imbuh beberapa teman dengan argumen yang bisa diterima akal sehat.

Betul pulsa selalu dibutuhkan orang, bahkan mungkin lebih dubutuhkan dibanding makan. Bahasa gaulnya, ‘nggak makan nggak papa dech’, yang penting bisa telepon dan SMS. Tapi jangan salah, ada beberapa penyebab kenapa bisnis pulsa juga terkena dampak krismon.

Berikut ini pengamatan dan pengalaman saya kenapa penjualan pulsa terdampak oleh krismon:

1. Perang provider
Tidak bisa dipungkiri jumlah provider telekomunikasi yang banyak, apalagi provider pendatang baru, berusaha menggaet pelanggan dengan berbagai cara. Salah satu contoh yang kita rasakan, tarif menelepon menjadi murah. Terjadi lomba penurunan tarif. Contoh paling gampang, lihat saja dilayar televisi, klaim paling murah terus berlangsung. Setiap hari muncul iklannya. Hal ini saya nilai wajar karena privider dengan investasi dan biaya operasional yang besar bertahan untuk tetap “hidup” di tengah krisis.

Kabar baiknya untuk kita ssebagai pengguna adalah, dengan perang tarif ini, pelanggan yang akan diuntungkan. Biaya menelepon menjadi lebih murah. Dengan asumsi sebelumnya menelepon 1 jam dengan biaya 40 ribuan menjadi Cuma setengahnya bahkan ada yang seribu, gratis lah dan lain-lain.

Sementara untuk pengusaha voucher hasil akhirnya adalah: pelanggan belanja pulsa lebih hemat. Akibatnya adalah omzet pedagang menurun.

2. Banyaknya pesaing
Berjualan pulsa saat ini dianggap mudah. Semua orang yang punya HP bisa berjualan pulsa elektrik. Grosir pulsa fisik pun terus tumbuh. Apalagi jumlah pedagang eceran. Mungkin setiap hari, kalau di survey, ada beberapa pedagang baru. Siswa sekolah bisa berjualan. Karyawan, mahasiswa, pensiunan, ibu rumah tangga, bahkan banyak orang yang baru diPHK pun berjualan pulsa. Jadi persaingan makin sesak. Akibatnya adalah, kue yang dibagi terlalu kecil untuk masing-masing penjual, omset akan turun.

3. Efek domino PHK
Di kawasan industri, rumah kost banyak yang kosong. Pedagang warung nasi pun mengeluh sepi. Jumlah pekerja menurun. Jumlah belanja yang masih menjadi pekerja pun menurun, karena jam lembur berkurang tapi biaya bulanan meningkat. Salah satu efek dari ‘pengencangan’ ikat pinggang pun terasa di pembelian pulsa. Banyak korban PHK yang pulang kampung yang efeknya pembeli makin menurun. Akibatnya, pembelian pun turun dan penjual turun juga penjualannya.

Ngomong-ngomong, saya buka-bukaan sedikit tentang penurunan omset ini. Berapa kira-kira? Dari hasil bincang-bincang dengan teman-teman jumlahpenurunan omset ini variatif. Saya memberikan angka 25 s/d 50 %. Jadi rata2 di angka 35%.

Pertanyaan berikutnya, kapan akan Pulih? Semoga segera. Tetap OPTIMIS teman-teman. Yakinlah, BADAI PASTI BERLALU –mengenang alm. Chrisye.

Salam,
MASBUKHIN PRADHANA
Entrepreneur Specialist
masbukhin@finansiaconsulting.com

KAYA DENGAN BERBAGI

August 31st, 2009

Minggu pertama puasa telah kita lewati, selamat! Lewat sudah ujian minggu pertama bagi kita. Lapar, haus dan menahan emosi sudah kita lakukan; dan pastinya nggak lupa mengalokasikan untuk membayar zakat kan? Setiap agama pasti memiliki istilah khusus untuk zakat, untuk memudahkan kita akan menyebutnya menjadi berbagi.

Dalam perencanaan keuangan modern khususnya yang berasal dari luar negeri alokasi berbagi tidak masuk dalam perencanaan pengeluaran. Tapi apakah di Indonesia hal itu bisa dilakukan? Di negara yang religiusitasnya menjadi bagian dari kehidupan rakyatnya, berbagi sudah menjadi kewajiban di setiap keyakinan yang ada di Indonesia. Lalu, bagaimana prioritas pengeluarannya?

Ini dia urutannya dan persentase yang dapat dijadikan referensi:

1. Sosial keagamaan: 10%
2. Cicilan utang: 30%
3. Investasi dan proteksi: 20%
4. Kebutuhan hidup: 40% (sisanya)

Masalahnya sekarang apakah alokasi ini mendukung tujuan keuangan kita? Apakah tidak membuat kita tekor? Kalau hanya berbicara mengenai angka dan jumlah pasti akan merasa rugi karena hilangnya sejumlah dana akibat berbagi tadi.

Tapi dari segi ‘nilai’ saya bisa sedikit memberikan gambaran :
1. Dengan berbagi secara iman kita merasa lebih sehat. Ada ungkapan bagus yang saya dapatkan dari ceramah yang saya dengarkan menjelang berbuka tadi sore,”Sedekah bukan kehilangan bagi kita karena sebenarnya uang tersebut adalah titipan Allah yang dipercayakan kepada kita untuk dibagikan.” Dan,”Jangan merasa sayang dengan uang yang kita dermakan/sedekahkan karena itu memang rejeki mereka yang diberikan Tuhan melalui kita.”

2. Dengan berbagi kita menjadi orang yang tidak boros. Alokasi awal yang disisihkan di awal menjadi pelajaran baik untuk kita agar tidak bersifat boros. Banyak orang menjadi boros akibat tidak mengalokasikan uangnya dengan jelas. Pokoknya semua pengeluaran dilakukan asal ada uangnya. Padahal penghasilan kan terbatas dan pengeluaran tak terbatas

3. Dengan berbagi kita akan menjadi kaya. Salah satu ciri orang kaya adalah memiliki dana lebih yang bisa dialokasikan dengan baik. Kalau Anda baru bisa mengalokasikan dana Anda untuk kebutuhan Anda sendiri dan keluarga, itu sih sudah biasa. Tapi kalau Anda sudah bisa mengalokasikan dana khusus untuk orang lain, itu baru luar biasa kaya. Jadi walaupun gaji kita kalah sama pimpinan kita, kalau dia tidak bisa bebagi sementara kita bisa, maka saya katakan kita lebih kaya.

4. Percaya atau tidak, telah banyak bukti memperlihatkan dengan berbagi orang menjadi lebih teratur keuangannya. Kenapa? karena dengan berbagi dia melihat orang lain di bawah(tidak mampu) sehingga selalu bersyukur dengan apa yang telah diberikan. Kunci utama keberhasilan keuangan adalah bagaimana kita mensyukuri atas apa yang sudah diberikan yaitu dengan mengelolanya menjadi cukup.

Jadi pengeloaan keuangan tanpa berbagi, mungkin kita harus mereview lagi ilmu perencanaan keuangan kita, karena berbagi tidak selalu mengurangi kok!

Salam,
EKO ENDARTO
Financial Planner
eko@finansiaconsulting.com

HOT TOPICS

August 18th, 2009

Hot Topics adalah tulisan yang berisi tentang berita, isu, rumor atau hal-hal yang sedang hot dalam pembicaraan sehari-hari. Topik yang akan ditulis tentunya berkaitan dengan dunia keuangan atau wirausaha.

Anda bisa memberikan usul atau ide atau pertanyaan yang menginspirasi para konsultan kami untuk menulis topik tersebut.

Kirimkan ke erry@finansiaconsulting.com.

Have  a great day :)