<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Finansia</title>
	<atom:link href="http://finansiaconsulting.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://finansiaconsulting.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Dec 2009 01:25:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>MERRY X&#8217;MAS &amp; HAPPY NEW YEAR&#8230;</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/12/merry-xmas-happy-new-year/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/12/merry-xmas-happy-new-year/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 01:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[We wish you merry x&#8217;mas&#8230;
We wish you merry x&#8217;mas&#8230;
We wish you merry x&#8217;mas&#8230;
and
Happy new year&#8230;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-224" title="xmas2" src="http://finansiaconsulting.com/wp-content/uploads/2009/12/xmas24.jpg" alt="xmas2" width="124" height="96" />We wish you merry x&#8217;mas&#8230;<br />
We wish you merry x&#8217;mas&#8230;<br />
We wish you merry x&#8217;mas&#8230;</p>
<p>and</p>
<p>Happy new year&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/12/merry-xmas-happy-new-year/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RESOLUSI KEUANGAN 2010</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/12/resolusi-keuangan-2010/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/12/resolusi-keuangan-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot Topics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Bicara tentang masalah keuangan, semua pasti mengalami. Namun memang sepertinya masalah itu akan berbeda dialami tiap orang bergantung dari banyak hal yang salah satunya adalah status. Seorang yang lajang atau memutuskan lajang sepertinya memiliki masalah keuangan yang berbeda dengan yang sudah menikah. Yang sudah menikah juga sepertinya berbeda antara yang telah lama dengan yang baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara tentang masalah keuangan, semua pasti mengalami. Namun memang sepertinya masalah itu akan berbeda dialami tiap orang bergantung dari banyak hal yang salah satunya adalah status. Seorang yang lajang atau memutuskan lajang sepertinya memiliki masalah keuangan yang berbeda dengan yang sudah menikah. Yang sudah menikah juga sepertinya berbeda antara yang telah lama dengan yang baru menikah.</p>
<p>Tapi sebenarnya kalau bicara tentang masalah keuangan, masalah utamanya sama saja. Intinya adalah selalu terbatasnya penghasilan atau dana yang ada untuk memenuhi seluruh pengeluaran yang ingin dipenuhi. Dan katanya yang lajang pasti lebih mudah menangani keuangannya,“<em>Kan hanya dipake sendiri dan ngga ada tanggungan lain</em>.” Tapi yang lajang dengan yakin juga akan berkata,”<em>Siapa bilang, yang nikah malah lebih enak, kan penghasilannya dari dua sumber jadi lebih mudah ngaturnya, bisa diskusi lagi dengan pasangannya</em>.”</p>
<p>Kita belum membahas mereka yang baru menikah dengan mereka yang telah memiliki anak. Pasti anggapannya akan sama yaitu yang tidak punya anak lebih mudah mengatur uangnya daripada yang punya anak. Tapi apa bener? Bisa aja kan yang tidak punya anak akan berkata “<em>Tau ngga karena ngga punya anak, uang kami berdua hanya dipake untuk senang-senang jadi ngga ada tanggung jawab sama sekali. Akhirnya ngga ada tabungan deh</em>.”</p>
<p>Terlepas dari itu semua, bagaimana keuangan Anda dengan apapun statusnya tahun ini? apakah merasa lebih baik atau malah lebih kacau? Kalau lebih kacau mungkin Anda perlu membuat resolusi baru tentang pengelolaan keuangan di tahun 2010 ini mungkin uraian di bawah bisa sebagai pegangan :</p>
<p><strong>Wanita Lajang</strong></p>
<p>Kenyataannya :</p>
<p>Wanita lajang biasanya memiliki satu sumber keuangan yaitu dirinya sendiri (kecuali kalau masih disubsidi oleh orang tua). Karena statusnya tadi, wanita lajang sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk menanggung orang lain. Dan karena lajang sudah pasti dia akan lebih bebas untuk menggunakan uang yang dimilikinya untuk hal-hal yang bersifat pribadi bagi dirinya.</p>
<p>Kelebihannya :</p>
<p>Bebas menggunakan uang yang dimiliki karena uang tersebut 100% hasil kerja keras yang ia lakukan. Dengan statusnya sebagai lajang ia sebenarnya tidak menanggung orang lain jadi tidak ada “dosa” untuk menghabiskan uang yang dimilikinya. Jadi belanjalah dengan tenang.</p>
<p>Hati-hati :</p>
<p>Mumpung lajang, ngga ada tanggungan maka merasa bebas menggunakan uangnya tanpa harus mendengarkan pendapat orang lain, sering kali terjadi pengeluaran menjadi tidak terkontrol sehingga pengeluaran menjadi lebih besar daripada pemasukan. Akibatnya adalah utang yang menumpuk, investasi tidak terpikirkan dan proteksi yang terabaikan.</p>
<p>Resolusi:</p>
<p>Menjadi lajang memang menyenangkan karena bebas menggunakan uang yang dimiliki tanpa harus memikirkan orang lain. Uang yang 100% di miliki juga boleh dan sah saja 100% dibelanjakan. Namun sering kali saking bebasnya untuk menyenangkan diri sendiri, sampai melupakan diri sendiri dimasa depan. Akibatnya tiap bulan penghasilan hanya habis untuk utang dan tidak memiliki investasi maupun proteksi untuk masa depan. Memiliki utang asalkan besarannya wajar (cicilannya maksimal 30% dari penghasilan) boleh saja.Tapi kalau lebih besar dari itu, prioritaskan penyelesaiaannya dahulu. Setelah itu mulailah untuk berinvestasi sedikit demi sedikit. Tujuannya bukan untuk kaya, tapi menjamin hidup kita dimasa depan apapun itu statusnya kelak. Kalau tetap lajang, minimal Anda akan menjadi lajang yang mandiri tidak tergantung orang lain dimasa tua. Kalau memutuskan menikah, maka akan menjadi pasangan yang seimbang karena memiliki modal bukan sekedar setor badan. Proteksi untuk mereka yang tidak punya tanggungan mungkin tidak perlu, tapi untuk lajang yang memiliki tanggungan, misalnya memiliki anak, menanggung orang tua atau keluarga, maka proteksi khususnya jiwa tetap harus.</p>
<p><strong>Akan menikah</strong></p>
<p>Kenyataan :</p>
<p>Mereka yang akan menikah adalah status lanjutan dari si lajang. Pada saat ini sudah ada sedikit transisi dari punya uang sendiri menjadi punya uang sendiri tapi mulai harus memikirkan orang lain.</p>
<p>Kelebihan :</p>
<p>Sudah mulai memikirkan masa depan, minimal sudah seddikit menabung untuk biaya menikah kelak. Mimpi untuk menikah dengan suasana serba merah dan dilaksanakan di salah satu pantai di bali pasti perlu duit bener ngga? Jadi sekarang uangnya tidak lagi semua dipakai untuk hura-hura dan konsumtif.</p>
<p>Hati-hati</p>
<p>Saat ini adalah saat berat, disaat rekan lain yang belum akan menikah bebas ngafe anda hanya bisa berkata maaf ngga ikutan, saat mereka belanja “sale” di mall Anda hanya bisa menjadi teman.Mungkin juga sebagian dana sudah menjadi komitmen bersama si calon untuk dialihkan untuk tabungan bersama.</p>
<p>Resolusi :</p>
<p>Untuk mereka yang akan menikah, memang hal ini cukup berat. Tidak boleh bebas mengeluarkan uang padahal menjadi istri juga belum. Mau bebas mengeluarkan uang tidak mungkin masa mau nikah cuma setor badan dan doa doang ngga sedikitpun membantu keuangan si calon? Lumayan kalau tajir kalau ngga bagaimana? he he. Jadi kalau Anda akan menikah tahun depan, mulailah atur keuangan dengan mencicil utang Anda lebih besar,dan usahakan selesai pada saat menikah kelak. Ngga lucu kan kalau menikah yang sebenarnya adalah penyatuan 2 pribadi menjadi penyatuan 2 utang. Mulai sedikit berinvestasi untuk persiapan bila Tuhan memberi titipan keturunan dengan cepat. Memang sih itu menjadi tanggung jawab suami, tapi kalau suami hanya mampu kasi tanggung jawab sampai kamar bersalin kelas 1, mungkin dengan ditambah tabungan Anda bisa masuk kelas VIP asyik kan ya. O ya, ngga usah latah buat rekening bersama kalau masih belum pasti ya (belum pasti waktunya apalagi orangnya), kecuali kalau semuanya udah pasti.</p>
<p><strong>Baru menikah</strong></p>
<p>Kenyataan :</p>
<p>Wuihh akhirnya, Saat ini adalah saat dimana semuanya serba indah, dan segalanya menjadi milik bersama. Bahkan mungkin uang yang dulunya menjadi milik sendiri-sendiri menjadi milik bersama. Pokoknya semua harus sama-sama</p>
<p>Kelebihan :</p>
<p>Punya dua sumber pemasukan, yang pastinya lebih besar dibandingkan saat masih lajang. Beberapa pasangan biasanya mempercayakan keauangan kepada pihak wanita.</p>
<p>Hati-hati :</p>
<p>Pengeluaran yang dulu hanya pengeluaran pribadi, sekarang menjadi pengeluaran keluarga.Untuk memegang seluruh pemasukan berarti beban dan tanggung jawabnya lebih berat. Karena harus bisa memenuhi keinginan yang tidak terbatas dengan hasil yang tidak terbatas. Kadangkala suami ngga percaya lo kalau cabe itu mahal.</p>
<p>Resolusi :</p>
<p>Pengeluaran sekarang berfokus menjadi pengeluaran bersama yaitu pengeluaran keluarga.Mulailah menabung dan investasi untuk nama keluarga. misalnya persiapan pensiun, biaya bersalin, rumah dan sebagainya. Lupakan dulu <em>plesir</em> ke luar negeri bila yang pokok belum dialokasikan. Untuk mereka yang ternyata langsung di percaya mendapatkan titipan keturunan, mulailah berhitung untuk investasi bagi biaya pendidikan si kecil. Makin cepat dimulai pasti makin baik karena kita bisa pilih produk yang memberi hasil besar, juga cicilannya tidak begitu banyak karena jangka waktunya sangat panjang. Jangan lupakan asuransi khususnya untuk anggota keluarga yang berperan pada keuangan keluarga. kalau Ayah yang bekerja dan ibu tidak bekerja maka asuransinya atas nama ayah dan jumlah uang pertanggungan harus cukup. Demikan sebaliknya bila ibu bekerja dan Ayah tidak. Kalau kedua-duanya bekerja, maka keduanya harus sama sama memiliki uang pertanggungan yang cukup. Berutang masih boleh dilakukan, dengan syarat usahakan untuk berhutang barang yang keluarga butuhkan bukan hanya Anda dan suami.</p>
<p><strong>Menikah dengan anak (Ibu)</strong></p>
<p>Kenyataan :</p>
<p>Saat ini keluarga menjadi lengkap dengan hadirnya keturunan. Pengeluaran sekarang bukan hanya untuk si ayah dan ibu saja, tapi sudah ada anggota keluarga baru yaitu anak yang juga menjadi tanggungan baik itu sekedar pengeluaran harian maupun investasi dan proteksinya.</p>
<p>Kelebihan :</p>
<p>Dengan makin banyaknya anggota keluarga berarti tanggung jawab juga makin besar maka uang tidak lagi digunakan untuk tujuan yang konsumtif.</p>
<p>Hati-hati :</p>
<p>Makin banyak anggota keluarga, makin besar pengeluarannya, maka kalau tidak pintar mengelola dan membatasi pengeluaran kita maka jangan heran kalau utang bisa manjadi besar.</p>
<p>Resolusi :</p>
<p>Pengeluaran Anda saat ini adalah pengeluaran keluarga besar (ayah ibu dan anak). untuk itu pengelolaannya menjadi sedikit lebih hati-hati. Sulit sih tidak, tapi memang harus memiliki prioritas yang tepat. Untuk mereka yang belum punya rumah, saatnya menjadikan rumah sebagai prioritas. Banyak orang terlena dan menunda untuk membeli rumah dengan alasan belum ada yang pas dan anak masih kecil. Padahal kalau anak makin besar akan lebih sulit terwujud keinginan tadi karena biaya untuk anak menjadi jauh lebih besar. Biaya sekolah, kebutuhan harian menjadi terus bertambah. Jadi mumpung Anda dan suami masih muda, dan anak masih kecil mulailah untuk mendapatkan rumah walaupun itu utang karena saat anak masih kecil cicilan untuk investasi biaya sekolahnya masih sangat kecil, sehingga masih mungkin untuk mencicil utang rumah. Untuk proteksi, tetap harus dimiliki dan dievaluasi, karena dengan makin banyaknya tanggungan sebaiknya uang pertanggungannya juga harus makin tinggi.</p>
<p>Salam,</p>
<p>EKO ENDARTO, RFA<br />
Financial Planner<br />
eko@finansiaconsulting.com<br />
ekoendarto@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/12/resolusi-keuangan-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halo Sahabat FINANSIA… :)</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/12/halo-sahabat-finansia%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/12/halo-sahabat-finansia%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Tidak terasa kita sudah di penghujung ujung tahun 2009. Biasanya aroma liburan dan kesenangan sudah tercium, bener kan?
Buat teman-teman yang merayakan Natal, pastinya sudah mulai mengajukan cuti dan teman-teman yang tidak merayakan pun mungkin sudah punya rencana yang diimpikan jauh-jauh hari. Maklum, tahun baru adalah ceremony setengah wajib untuk selalu dirayakan bersama keluarga, pasangan, teman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak terasa kita sudah di penghujung ujung tahun 2009. Biasanya aroma liburan dan kesenangan sudah tercium, bener kan?</p>
<p>Buat teman-teman yang merayakan Natal, pastinya sudah mulai mengajukan cuti dan teman-teman yang tidak merayakan pun mungkin sudah punya rencana yang diimpikan jauh-jauh hari. Maklum, tahun baru adalah ceremony setengah wajib untuk selalu dirayakan bersama keluarga, pasangan, teman, atau sahabat.  Setahun sekali gitu looohhh…. <img src='http://finansiaconsulting.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Biasanya kita membuat banyak rencana-rencana menyambut tahun berikutnya, atau kita biasa menyebut RESOLUSI. Rencana yang umum adalah, menghentikan hal-hal yang tidak baik, mempertahankan hal-hal yang sudah baik dan merealisasikan mimpi-mimpi yang belum berhasil kita raih di tahun sebelumnya.</p>
<p>Nah, untuk keuangan, apa RESOLUSI Anda di tahun 2010? Kalau Anda masih bingung dan belum kepikiran, Pak Eko punya solusinya. SIlakan klik di menu HOT TOPIC. Tulisan ini diambil dari majalah HERWORLD Indonesia edisi Desember 2009. Semoga tulisan Pak Eko bisa menjadi referensi teman-teman.</p>
<p>Selamat membuat RESOLUSI!</p>
<p>Salam,</p>
<p>ERRY KURNIAWATI<br />
erry@finansiaconsulting.com<br />
YM id: erry24@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/12/halo-sahabat-finansia%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/11/selamat-hari-raya-idul-adha/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/11/selamat-hari-raya-idul-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 03:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Halo sahabat FINANSIA&#8230;
Selamat Hari Raya Idul Adha,
Semoga kita bisa meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
sehingga menjadikan kita hamba yang selalu disayang dan dilimpahi Rejeki yang halal &#38; barokah
Amin&#8230;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo sahabat FINANSIA&#8230;</p>
<p>Selamat Hari Raya Idul Adha,<br />
Semoga kita bisa meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail<br />
sehingga menjadikan kita hamba yang selalu disayang dan dilimpahi Rejeki yang halal &amp; barokah</p>
<p>Amin&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/11/selamat-hari-raya-idul-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EDITORIAL</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/11/editorial/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/11/editorial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 04:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[1, 2, 3 atau 4?
Apa itu 1,2,3,atau 4? Tenang..tenang.. ini bukan poligami, maklum sekarang lagi hangat isu tentang club poligami. 1,2,3, atau 4 yang saya maksud adalah kuadran fenomenal dari Robert Kiyosaki. Betul, kita bisa mendapatkan penghasilan dari 4 sumber: employee, self-employed, business owner dan investor.
Itulah sekilas pembukaan pelatihan hari ini (baca: 3 November 2009) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1, 2, 3 atau 4?</strong></p>
<p>Apa itu 1,2,3,atau 4? Tenang..tenang.. ini bukan poligami, maklum sekarang lagi hangat isu tentang club poligami. 1,2,3, atau 4 yang saya maksud adalah kuadran fenomenal dari Robert Kiyosaki. Betul, kita bisa mendapatkan penghasilan dari 4 sumber: employee, self-employed, business owner dan investor.</p>
<p>Itulah sekilas pembukaan pelatihan hari ini (baca: 3 November 2009) dari Mas Bukhin, entrepreneur specialist dari FINANSIA. Pelatihan hari ini tentang kewirausahaan. Pesertanya adalah mereka yang mengambil pensiun dini dari sebuah perusahaan. Banyak orang yang bingung saat mengundurkan diri dari perusahaan, sudah dapat uang paket, trus mau ngapain ya?</p>
<p>Pelatihan ini kami beri nama “Retire Young Retire Rich”. Siapa juga yang nggak mau? Muda dan kaya! Waaahhh&#8230;&#8230;  Gimana caranya?  Kita bisa mulai dengan membuat rencana usaha step by step. Rumusan a la FINANSIA adalah: 6W+1H.</p>
<p>Sebelum masuk ke rumusan step by step, pastikan rencana ini dibuat secara TERTULIS. Oke, kita mulai ya. WHAT: bikin list apa saja usaha yang ingin kita buka. Diantara sekian banyak list Anda, ambil 1 sd 3 bisnis yang paling mendekati. Sudah dilingkari? Oke step 2, WHOM: tulis disebelah kanan rencana bisnis Anda siapa pangsa pasar bisnis kita tersebut. Step berikutnya adalah WHERE: tuliskan dimana Anda akan mendirikan bisnis Anda, di rumah, sewa ruko, di perempatan jalan, di daerah kampus, atau dimana. Ini berkorelasi dengan pangsa pasar kita. WHEN: tuliskan kapan akan memulai bisnis, termasuk jam operasional bisnis kita. Misalnya: warung makan buka 24 jam, atau kedai printing buka jam 8.00-21.00. Step selanjutnya adalah WHY: tanyakan kepada diri Anda sendiri, mengapa kita tertarik mengembangkan usaha ini. Hal ini menjadi penting karena secara psikologis, bila kita membuaka usaha karena kita suka dan memiliki motivasi tertentu, maka kita akan punya ‘energi’ untuk membuat usaha kita berjalan dan bertahan. WHO: tuliskan siapa saja yang dibutuhkan, apa saja tugasnya. Ini penting untuk keperluan rekrut karyawan. HOW: tuliskan bagaimana Anda menjalankan bisnis tersebut, bagaimana proses menyebarkan/distribusi produknya, dan berapa besar modal yang dibutuhkan. How disini termasuk didalamnya adalah how many dan how much.</p>
<p>Mudah-mudahan step by step a la FINANSIA tadi membantu Anda untuk membuat sebuah bisnis.</p>
<p>Oya, tadi itu cuma sebagian kecil dari pelatihan kewirausahaan. Kalau Anda ingin belajar lebih lanjut, kenapa kita nggak sama-sama bikin pelatihan atau kursus singkat yang bisa bermanfaat bagi orang lain dan memberikan rejeki juga untuk kita. Ada yang berminat mengadakan pelatihan, <em>just call me, let’s do sinergy</em>!</p>
<p>Tuh kan, siapa bilang berbagi bikin kita tambah miskin? Yuk, kaya bersama, maju bersama!</p>
<p>Salam,<br />
<strong>ERRY KURNIAWATI</strong><br />
erry@finansiaconsulting.com<br />
YM id: erry24@yahoo.com<br />
0856 4335 3169</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/11/editorial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halo sahabat FINANSIA&#8230;.. :)</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/10/halo-sahabat-finansia-5/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/10/halo-sahabat-finansia-5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Apa kabaaaarrrrrrr??? Waaahhh&#8230; maaf ya, sudah lama sekali kita nggak ketemu. Maaf sekali lagi. Semoga teman-teman sehat, sejahtera dan bahagia. Amin&#8230;
Kita seing mendengar kata finansial. Finansial merupakan kata yang unisex, bisa jadi berasosiasi dengan laki-laki, tapi saat bicara rumah tangga biasanya kita langsung mengasosiasikan dengan perempuan, ibu rumah tangga. Bila bicara investasi berupa saham, atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa kabaaaarrrrrrr??? Waaahhh&#8230; maaf ya, sudah lama sekali kita nggak ketemu. Maaf sekali lagi. Semoga teman-teman sehat, sejahtera dan bahagia. Amin&#8230;</p>
<p>Kita seing mendengar kata finansial. Finansial merupakan kata yang unisex, bisa jadi berasosiasi dengan laki-laki, tapi saat bicara rumah tangga biasanya kita langsung mengasosiasikan dengan perempuan, ibu rumah tangga. Bila bicara investasi berupa saham, atau properti, mungkin Anda membayangkan ‘<em>oh, ini bidangnya laki-laki’</em>, namun saat mendengar investasi emas, maka bayangannya adalah perhiasan ‘<em>nah, kalau ini baru perempuan</em>’. Padahal, laki-laki atau perempuan punya akses yang sama untuk investasi manapun. Ya nggak sih?</p>
<p>Nah, kali ini saya punya artikel menarik dari seorang teman. Dia ibu muda yang memiliki 1 orang putra. Namanya Rahma. Rahma mengajak kita –khususnya perempuan- untuk mandiri secara finansial. Silakan klik di menu WHAT THEY SAY, judulnya “<strong>SAUDARIKU, Mandirilah secara Finansial</strong>!”</p>
<p>Tulisannya terinspirasi dari sebuah video yang dia dapat dari youtube, judulnya <em>Girl Effect</em>. Intinya adalah tentang bagaimana satu komunitas, bahkan negara akan berkembang dengan baik apabila para perempuannya mandiri secara finansial. Sering kita dengar bahwa perempuan lebih peka terhadap kebutuhan sekitarnya, tidak hanya keluarganya, tapi juga lingkungan sekitarnya. Nalurinya untuk mengasuh itu pula yang membuat perempuan seolah punya energi lebih ketika keluarganya membutuhkan uluran tangannya. Baik untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk membantu suaminya mencari nafkah, atau tatkala perempuan harus mandiri saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam keluarganya, misalnya, saat suaminya –maaf- mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa lagi menghidupi keluarganya atau karena sebab lain. Jadi, kemandirian perempuan adalah salah satu cara untuk mengantisipasi risiko bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<p>Nah, untuk melengkapinya, pada menu HOT TOPIC, Pak Eko Endarto akan membagi tips cara yang tepat mengambil asuransi. Banyak dari kita yang mengambil asuransi karena ‘merasa butuh’ atau karena tidak enak pada agen penjual asuransi karena alasan pertemanan, karena saudara, dsb. Bagaimanapun asuransi adalah hal yang penting dalam perencanaan keuangan khususnya dalam mengantisipasi risiko, namun tetap harus cermat dalam memilih dan ‘berhitung’.</p>
<p>Itu dulu dari saya. <em>Happy reading</em>! <img src='http://finansiaconsulting.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam,</p>
<p>ERRY KURNIAWATI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/10/halo-sahabat-finansia-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JANGAN ASAL AMBIL PROTEKSI</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/10/jangan-asal-ambil-proteksi/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/10/jangan-asal-ambil-proteksi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot Topics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[“Asuransi ini memberikan uang petanggungan sampai dengan 100 juta pak, dan perlindungannya berlaku sampai dengan Anda berusia 99 tahun,” demikian sepenggal percakapan saya dengan agen asuransi yang menawarkan produknya kepada saya.
Memiliki proteksi adalah salah satu kelengkapan mutlak dalam perencanaan keuangan. Rencana investasi yang sudah sempurna tidak akan lengkap tanpa adanya proteksi. Mengapa? Sebab adalah sia-sia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em><em>Asuransi ini memberikan uang petanggungan sampai dengan 100 juta pak, dan perlindungannya berlaku sampai dengan Anda berusia 99 tahun</em></em>,” demikian sepenggal percakapan saya dengan agen asuransi yang menawarkan produknya kepada saya.</p>
<p>Memiliki proteksi adalah salah satu kelengkapan mutlak dalam perencanaan keuangan. Rencana investasi yang sudah sempurna tidak akan lengkap tanpa adanya proteksi. Mengapa? Sebab adalah sia-sia suatu investasi bila ternyata setelah susah payah, hasil investasi yang diperoleh habis untuk menutupi segala risiko yang terjadi pada kita.</p>
<p>Apapun yang menjadi pilihan, baik itu berupa proteksi yang murni atau proteksi dengan tambahan investasi, keduanya tidak menjadi masalah karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Namun demikian, jangan sampai salah dalam mengambil proteksi! Percuma Anda mengantisipasi risiko dengan proteksi bila ternyata proteksi yang didapat tidak berguna saat dibutuhkan. Nah, berikut ini tips yang bisa dijadikan dasar agar tidak asal memilih asuransi.</p>
<ul>
<li><strong>Pilih sesuai kebutuhan</strong></li>
</ul>
<p>Ini adalah saran awal dalam mengambil proteksi. Kayaknya kalimat ini sangat mudah, karena pasti semua orang butuh proteksi atau perlindungan. Namun apakah benar tidak ada yang salah dalam memutuskan mengambil asuransi?</p>
<p>Kita ambil contoh kasus, seorang ibu memutuskan untuk mengambil asuransi kesehatan untuk suaminya yang memang menjadi tulang punggung utama di keluarga sebagai sumber nafkah. Kalau kita hanya baca sekilas, sepertinya tidak ada yang salah dengan pilihan si ibu. Tapi coba kita bahas lagi lebih dalam. Apakah proteksi yang dipilih si Ibu sudah sesuai dengan kebutuhan? Apa artinya? Begini, proteksi memang benar melindungi, tapi ini bisa diterima bila si penerima manfaat memang tidak memiliki proteksi dari tempat lain. Jadi kalau misalnya si Bapak mendapatkan proteksi dari kantornya, maka yang dilakukan si Ibu adalah suatu kesalahan karena risiko yang diterima si bapak telah tercover oleh perusahaan tempatnya bernaung dan pihak asuransi tidak akan mau menanggung risiko itu lagi. Jadi kalau si Ibu mau membuat asuransi untuk si Bapak, mungkin dia tidak mengambil proteksi dengan skim penggantian, tapi dengan skim santunan karena skim santunan bersifat seperti membantu bukan memindahkan risiko.</p>
<p>Banyak orang juga salah mengambil asuransi kerugian. Beberapa orang mengambil asuransi hanya berdasarkan kemauan si penjual atau agen bukan kebutuhannya. Misalnya asuransi kerugian untuk rumah. Biasanya si agen tidak hanya menjual asuransi kebakaran tapi juga tambahan lainnya misalnya risiko kebanjiran. Beberapa dari kita tidak sadar apakah itu kita butuhkan atau tidak. Bila tempat tinggal kita terletak cukup tinggi dan sejarah membuktikan bahwa lokasi tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terkena banjir, tambahan klausa risiko banjir tidak perlu diambil.</p>
<ul>
<li><strong>Perhitungkan untuk yang ditinggalkan bukan untuk Anda</strong></li>
</ul>
<p>Seorang peserta seminar pernah bertanya apakah dirinya sebagai seorang bujangan perlu untuk mengambil asuransi jiwa. Asuransi dibentuk sebagai sarana pengalihan risiko kepada perusahaan penyedia jasa perlindungan dalam hal ini pihak asuransi bila terjadi risiko atas nama si klien. Kalau berbicara asuransi jiwa, maka yang menerima manfaat atas perlindungan jiwa bukanlan klien yang namanya tercantum pada polis, tapi pewaris atau penerima manfaat atas risiko tersebut.</p>
<p>Jadi kalau Anda bertanya apakah seorang bujangan butuh asuransi? Tentu jawabannya tergantung apakah si bujangan tadi memiliki tanggungan atau tidak. Bila si bujangan sehari-harinya menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya dalam hal ini mungkin ayah, ibu dan adik atau kakaknya, maka dia memamg butuh yang namanya asuransi jiwa. Tapi kalau dia sehari-harinya tidak menjadi tangungan keluaganya, maka asuransi jiwa tidak dibutuhkan oleh mereka yang bujangan.</p>
<p>Demikian juga untuk anak-anak. Ada beberapa keluarga membuatkan asuransi jiwa untuk anaknya. Kalau dibilang salah sih tidak, tapi tidak tepat. Karena seperti juga bujangan, anak-anak tersebut secara ekonomi bisa dikatakan tidak memiliki nilai ekonomii karena bila si anak tidak ada, ekonomi yang ditinggalkan tidak akan mengalami masalah. Jadi untuk si anak, daripada asuransi jiwa, mungkin lebih baik ambil asuransi kesehatan atau pendidikan.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya adalah, berapa angka pertanggungannya? Tentunya harus diperhitungkan berapa besar kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Usahakan agar bisa memenuhi kebutuhan bulanan mereka seperti saat si penanggung tersebut masih ada.</p>
<ul>
<li> <strong>Sesuaikan dengan jamannya</strong></li>
</ul>
<p>Nah, ini juga yang sering salah. Banyak orang mengambil asuransi hanya sekali dan kemudian sudah merasa asuransi itu sudah cukup. Seperti cerita di awal, uang pertanggungan Rp100 juta memang saat ini banyak dan cukup. Tapi bagaimana bila risiko terjadi bukan saat ini tapi 20 tahun ke depan? Apa jadinya dengan uang 100 juta tadi? Anda pasti bisa menjawabnya.</p>
<p>Jadi dalam mengambil asuransi harus diperhitungkan dengan benar. Sesuaikan dengan jamannya dan selalu dilakukan evaluasi apakah nilai pertanggungan tersebut mencukupi atau tidak kelak bila terjadi risiko. Mungkin Anda akan bertanya apakah saya berarti harus mengambil asuransi besok-besok saja dan bukan sekarang? Jawabannya: salah! Mengapa? Karena risiko tidak bisa kita duga maka makin cepat diambil akan makin baik. Bagaimana kalau tidak cukup? Nah ini yang mungkin tidak kita mengerti, seharusnya asuransi memang diambil secara berkesinambungan misalnya saat ini di ambil, bisa jadi 3 tahun ke depan Anda akan mengambil lagi untuk menambah nilai uang petanggungan yang sudah Anda ambil 3 tahun lalu karena nilainya sudah tidak sesuai lagi. Jadi jangan heran kalau orang punya beberapa polis asuransi. Bukan karena tidak mengerti, tapi bisa jadi karena mereka harus menyesuaikan dengan jamannya.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Proteksi adalah bagian dari perencanaan keuangan. Rencana yang baik tetap saja akan menjadi suatu kesia-siaan bila tidak ada proteksi yang menjamin kelangsungan rencana tersebut bisa tetap jalan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Tapi proteksi yang diambil juga jangan asal, tiga hal mudah bisa menjadi pegangan, yaitu:</p>
<ol>
<li>Ambil      sesuai kebutuhan,</li>
<li>Perhitungkan      untuk mereka yang membutuhkan, dan</li>
<li>Sesuaikan      dengan jamannya.</li>
</ol>
<p>Mudah bukan?</p>
<p>Salam,<br />
<strong>Eko Endarto, RFA</strong><br />
Financial Planner<br />
<a href="http://">eko@finansiaconsulting.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/10/jangan-asal-ambil-proteksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAUDARIKU, Mandirilah secara Finansial!</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/10/saudariku-mandirilah-secara-finansial/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/10/saudariku-mandirilah-secara-finansial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[What They Say]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira setahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah video dari youtube yang judulnya “Girl Effect”. Videonya sangat sederhana, tapi video itu memang bener banget deh. Intinya tentang bagaimana kondisi satu keluarga, satu komunitas, satu negara akan berkembang baik jika perempuan-perempuannya mampu mandiri secara finansial. Coba sekarang lihat, berapa banyak UKM yang berdiri dari tangan perempuan, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-194" title="Perempuan tangguh" src="http://finansiaconsulting.com/wp-content/uploads/2009/10/Perempuan-tangguh-300x231.jpg" alt="Perempuan tangguh" width="185" height="141" />Kira-kira setahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah video dari youtube yang judulnya “<em>Girl Effect</em>”. Videonya sangat sederhana, tapi video itu memang bener banget deh. Intinya tentang bagaimana kondisi satu keluarga, satu komunitas, satu negara akan berkembang baik jika perempuan-perempuannya mampu mandiri secara finansial. Coba sekarang lihat, berapa banyak UKM yang berdiri dari tangan perempuan, yang akhirnya tidak hanya keluarganya yang tertolong, tapi masyarakat disekitarnya dan berimbas ke pemasukan negara? Berapa banyak juga perempuan yang akhirnya mampu menghidupi anak-anaknya sampai mereka sarjana walaupun tanpa bantuan suaminya?</p>
<p>Perempuan memang lebih peka terhadap kebutuhan orang-orang yang ada disekitarnya, itulah mengapa mereka mampu dan mau bekerja keras demi orang-orang yang dicintainya. Saat gempa Jogja tahun 2006 yang lalu, justru para ibu rumah tanggalah yang paling tahu kebutuhan apa saja yang harus mereka dahulukan di saat krisis, mereka tahu prioritas dibandingkan para kepala rumah tangga. Bahkan saat lebaran, Papa-ku tidak pernah memberikan THR pada karyawannya, beliau memberikan bingkisan lebaran yang isinya kebutuhan rumah tangga, alasannya,“<em>Kalau dikasih duit belum tentu sampe ke istrinya, kalau dikasih beras, gula, roti pasti kan dikasih ke istrinya</em>.” Hmmmm&#8230;&#8230;bener juga ya?</p>
<p>Nah, bagaimana jadinya jika perempuan tidak punya kemandirian finansial? Coba lihat, siapa sajakah yang ada di garis kemiskinan. Di semua negara, para janda masuk dalam kategori ini (“<em>women as a winners</em>” karya Dorothy Jongeward), entah mereka menjadi janda karena bercerai atau ditinggal mati suaminya. Mengapa bisa begitu? Saat masih bersama suami, perempuan-perempuan ini hanya mendapatkan uang dari suaminya, mereka tidak bekerja. Walaupun secara finansial kebutuhan mereka terpenuhi, tapi bagaimana jika suatu saat mereka menjadi janda? Tak pernah mereka berpikir, apalagi peternakan anak mereka begitu besarnya…..uppsss. Pahitnya, setelah bercerai segala kebutuhan anak hanya istri yang menanggung. Jika misal saat ditinggal, suami masih dapat memberikan jatah finansial, ya Alhamdulillah, tapi itu sampai kapan? Nah, misal suami menikah lagi, pastilah suami akan membagi pendapatannya ke 2 rumah. Trus, anak-anak yang masih dibawah umur ikutan cari uang…ohhhh <em>NO</em>! <em>NO</em>!</p>
<p>Trus, bagaimana jika suami melarang bekerja? Menurut saya, mintalah keamanan finansial sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Misal, mintalah jatah asuransi pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak, atau minta dia mendepositokan uangnya, atau minta dia membeli tanah atas nama istri sebagai jaminan. Hehehehe..memang agak matre ya, tapi suatu saat nanti jatah keamanan itu akan sangat membantu. Percaya dech!</p>
<p><strong> SITI HAJAR RAHMAWATI</strong></p>
<p>Mahasiswa Pascasarjana Psikologi UGM, ibu satu putra</p>
<p>Yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/10/saudariku-mandirilah-secara-finansial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELAMAT LEBARAN :)</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/09/177/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/09/177/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 03:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/2009/09/177/</guid>
		<description><![CDATA[
Sahabat FINANSIA&#8230;
Mohon dimaafkan segala salah &#38; khilaf baik sikap, laku maupun kata&#8230;
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.
 Semoga hati kita dipenuhi dengan kebahagiaan dan ketenangan.
Amin&#8230;.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-180" title="Foto Lebaran1a" src="http://finansiaconsulting.com/wp-content/uploads/2009/09/Foto-Lebaran1a2-168x300.jpg" alt="Foto Lebaran1a" width="98" height="176" /></p>
<p><strong>Sahabat FINANSIA&#8230;<br />
Mohon dimaafkan segala salah &amp; khilaf baik sikap, laku maupun kata&#8230;<br />
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.</strong></p>
<p><strong> Semoga hati kita dipenuhi dengan kebahagiaan dan ketenangan.<br />
Amin&#8230;.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/09/177/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM CASH FLOW</title>
		<link>http://finansiaconsulting.com/2009/09/yang-harus-diperhatikan-dalam-cash-flow/</link>
		<comments>http://finansiaconsulting.com/2009/09/yang-harus-diperhatikan-dalam-cash-flow/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 05:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://finansiaconsulting.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang pertengahan bulan seringkali kita mendengar berbagai keluhan mulai dari gaji sudah habis, angsuran hutang belum terbayar, tunggakan kartu kredit belum lunas dan sebagainya. Memang dalam kenyataannya kenaikan penghasilan yang disebabkan naiknya jabatan dan kenaikan gaji rutin tahunan tidak memecahkan masalah habisnya uang gajian.
Pertanyaannya adalah gimana caranya agar kita tidak melulu berada pada masalah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang pertengahan bulan seringkali kita mendengar berbagai keluhan mulai dari gaji sudah habis, angsuran hutang belum terbayar, tunggakan kartu kredit belum lunas dan sebagainya. Memang dalam kenyataannya kenaikan penghasilan yang disebabkan naiknya jabatan dan kenaikan gaji rutin tahunan tidak memecahkan masalah habisnya uang gajian.</p>
<p>Pertanyaannya adalah gimana caranya agar kita tidak melulu berada pada masalah yang sama?</p>
<p>Agar setiap bulan kita tidak selalu berhadapan dengan masalah tersebut, maka diperlukan rencana penggunaan pendapatan dan pengeluaran yang baik. Untuk itu kita perlu membuat catatan dari pendapatan dan pengeluaran yang telah kita lakukan. Bahasa kerennya adalah <strong><em>cash flow</em></strong> atau arus kas.</p>
<p>Pada dasarnya <em>cash flow</em> atau arus kas terdiri dari dua unsur yaitu:<br />
1.    <strong>Pendapatan</strong>. Pendapatan terdiri dari gaji, bonus, fee, pembagian keuntungan perusahaan dan sebagainya<br />
2.    <strong>Pengeluaran</strong>.  Pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin seperti bayar listrik, bayar telepon, uang transport, belanja kebutuhan sehari–hari dan sebagainya. Dan pengeluaran yang non rutin misalnya membeli pakaian, <em>travelling</em>, makan di restoran dan sebagainya.</p>
<p><em>Cash flow</em> yang baik tentunya harus lebih besar pendapatan ketimbang pengeluaran. Seperti kata pepatah bijak, “<em>Jangan besar pasak daripada tiang</em>.” Jadi usahakan <em>cash flow</em> bernilai positif.</p>
<p><strong>3 HAL YANG PENTING DALAM<em> CASH FLOW </em></strong></p>
<p>Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam <em>cash flow</em> yaitu:</p>
<p><strong>1.</strong> <strong>Perhatikan pendapatan dan pengeluaran dengan cermat</strong><br />
Catatlah sumber pendapatan dan pengeluaran dengan detil. Seberapa besar atau kecil nilainya tetap masukkan dalam <em>cash flow</em>. Kuncinya, sedapat mungkin <em>cash flow</em> tersebut menggambarkan nilai riil yang Anda terima dan keluarkan dalam satu bulan</p>
<p><strong>2.      Usahakan <em>cash flow</em> bernilai positif </strong><br />
Pendapatan yang kita terima seharusnya mampu untuk menutupi kebutuhan bulanan. Apabila ternyata ada kelebihan maka dapat disimpan atau diinvestasikan, namun apabila ternyata bernilai negatif maka perlu di lihat kembali apakah perlu dilakukan penyesuaian terhadap pos pengeluaran.</p>
<p><strong>3.      Evaluasi <em>cash flow</em> secara periodik </strong><br />
Semakin kita disiplin melakukan evaluasi, semakin cepat kita tahu apabila ada ketidakseimbangan didalamnya. Bila terjadi <em>cash flow</em> negatif, maka kita bisa melakukan 3 cara penyesuaian, yaitu kurangi pengeluaran, menambah penghasilan, atau lakukan dua-duanya sekaligus, kurangi pengeluaran &amp; manambah penghasilan.</p>
<p>Menambah penghasilan bisa kita lakukan dengan mencari penghasilan tambahan seperti mengajar, menulis di media massa, atau bisa juga dengan memulai bisnis sampingan seperti membeli franchise yang tidak terlalu mahal dan lainnya. Dari sisi pengeluaran tentunya dengan melakukan penghematan, lihat lagi mana saja pengeluaran yang bisa dicoret dari daftar Anda.</p>
<p>Dengan memiliki <em>cash flow</em> yang baik maka kita berusaha untuk selalu disiplin dalam mengelola keuangan kita sendiri. Selalu melakukan kontrol terhadap pengeluaran merupakan suatu keharusan, karena umumnya pendapatan nilainya terbatas tetapi pengeluaran memiliki nilai yang tidak terbatas. Semakin besar pendapatan bukanlah jaminan untuk mengumpulkan kekayaan, karena bisa saja pendapatan makin besar tetapi kenaikan pengeluaran lebih besar dari peningkatan pendapatannya.</p>
<p>Memiliki <em>cash flow </em>yang baik dan positif merupakan langkah awal yang bagus untuk membuat rencana keuangan lainnya, seperti merencanakan biaya pendidikan, persiapan dana untuk pensiun dan sebagainya, untuk itu mulailah untuk berdisiplin dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran agar keuangan kita semakin baik dimasa depan.</p>
<p>Salam,<br />
MULYONO PUTRO, RFA<br />
<em>Financial Planner Assistant</em><br />
mulyono@finansiaconsulting.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://finansiaconsulting.com/2009/09/yang-harus-diperhatikan-dalam-cash-flow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
