SAUDARIKU, Mandirilah secara Finansial!

October 27th, 2009

Perempuan tangguhKira-kira setahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah video dari youtube yang judulnya “Girl Effect”. Videonya sangat sederhana, tapi video itu memang bener banget deh. Intinya tentang bagaimana kondisi satu keluarga, satu komunitas, satu negara akan berkembang baik jika perempuan-perempuannya mampu mandiri secara finansial. Coba sekarang lihat, berapa banyak UKM yang berdiri dari tangan perempuan, yang akhirnya tidak hanya keluarganya yang tertolong, tapi masyarakat disekitarnya dan berimbas ke pemasukan negara? Berapa banyak juga perempuan yang akhirnya mampu menghidupi anak-anaknya sampai mereka sarjana walaupun tanpa bantuan suaminya?

Perempuan memang lebih peka terhadap kebutuhan orang-orang yang ada disekitarnya, itulah mengapa mereka mampu dan mau bekerja keras demi orang-orang yang dicintainya. Saat gempa Jogja tahun 2006 yang lalu, justru para ibu rumah tanggalah yang paling tahu kebutuhan apa saja yang harus mereka dahulukan di saat krisis, mereka tahu prioritas dibandingkan para kepala rumah tangga. Bahkan saat lebaran, Papa-ku tidak pernah memberikan THR pada karyawannya, beliau memberikan bingkisan lebaran yang isinya kebutuhan rumah tangga, alasannya,“Kalau dikasih duit belum tentu sampe ke istrinya, kalau dikasih beras, gula, roti pasti kan dikasih ke istrinya.” Hmmmm……bener juga ya?

Nah, bagaimana jadinya jika perempuan tidak punya kemandirian finansial? Coba lihat, siapa sajakah yang ada di garis kemiskinan. Di semua negara, para janda masuk dalam kategori ini (“women as a winners” karya Dorothy Jongeward), entah mereka menjadi janda karena bercerai atau ditinggal mati suaminya. Mengapa bisa begitu? Saat masih bersama suami, perempuan-perempuan ini hanya mendapatkan uang dari suaminya, mereka tidak bekerja. Walaupun secara finansial kebutuhan mereka terpenuhi, tapi bagaimana jika suatu saat mereka menjadi janda? Tak pernah mereka berpikir, apalagi peternakan anak mereka begitu besarnya…..uppsss. Pahitnya, setelah bercerai segala kebutuhan anak hanya istri yang menanggung. Jika misal saat ditinggal, suami masih dapat memberikan jatah finansial, ya Alhamdulillah, tapi itu sampai kapan? Nah, misal suami menikah lagi, pastilah suami akan membagi pendapatannya ke 2 rumah. Trus, anak-anak yang masih dibawah umur ikutan cari uang…ohhhh NO! NO!

Trus, bagaimana jika suami melarang bekerja? Menurut saya, mintalah keamanan finansial sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Misal, mintalah jatah asuransi pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak, atau minta dia mendepositokan uangnya, atau minta dia membeli tanah atas nama istri sebagai jaminan. Hehehehe..memang agak matre ya, tapi suatu saat nanti jatah keamanan itu akan sangat membantu. Percaya dech!

SITI HAJAR RAHMAWATI

Mahasiswa Pascasarjana Psikologi UGM, ibu satu putra

Yogyakarta

What They Say

August 18th, 2009

What They Say diperuntukkan khusus untuk Anda. Disini Anda bebas sharing tentang pengalaman Anda seputar pengalaman tentang keuangan pribadi atau wirausaha.

“Mari berbagi,
Tebar inspirasi”

Kirim ke erry@finansiaconsulting.com