YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM CASH FLOW

September 10th, 2009

Menjelang pertengahan bulan seringkali kita mendengar berbagai keluhan mulai dari gaji sudah habis, angsuran hutang belum terbayar, tunggakan kartu kredit belum lunas dan sebagainya. Memang dalam kenyataannya kenaikan penghasilan yang disebabkan naiknya jabatan dan kenaikan gaji rutin tahunan tidak memecahkan masalah habisnya uang gajian.

Pertanyaannya adalah gimana caranya agar kita tidak melulu berada pada masalah yang sama?

Agar setiap bulan kita tidak selalu berhadapan dengan masalah tersebut, maka diperlukan rencana penggunaan pendapatan dan pengeluaran yang baik. Untuk itu kita perlu membuat catatan dari pendapatan dan pengeluaran yang telah kita lakukan. Bahasa kerennya adalah cash flow atau arus kas.

Pada dasarnya cash flow atau arus kas terdiri dari dua unsur yaitu:
1. Pendapatan. Pendapatan terdiri dari gaji, bonus, fee, pembagian keuntungan perusahaan dan sebagainya
2. Pengeluaran. Pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin seperti bayar listrik, bayar telepon, uang transport, belanja kebutuhan sehari–hari dan sebagainya. Dan pengeluaran yang non rutin misalnya membeli pakaian, travelling, makan di restoran dan sebagainya.

Cash flow yang baik tentunya harus lebih besar pendapatan ketimbang pengeluaran. Seperti kata pepatah bijak, “Jangan besar pasak daripada tiang.” Jadi usahakan cash flow bernilai positif.

3 HAL YANG PENTING DALAM CASH FLOW

Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam cash flow yaitu:

1. Perhatikan pendapatan dan pengeluaran dengan cermat
Catatlah sumber pendapatan dan pengeluaran dengan detil. Seberapa besar atau kecil nilainya tetap masukkan dalam cash flow. Kuncinya, sedapat mungkin cash flow tersebut menggambarkan nilai riil yang Anda terima dan keluarkan dalam satu bulan

2. Usahakan cash flow bernilai positif
Pendapatan yang kita terima seharusnya mampu untuk menutupi kebutuhan bulanan. Apabila ternyata ada kelebihan maka dapat disimpan atau diinvestasikan, namun apabila ternyata bernilai negatif maka perlu di lihat kembali apakah perlu dilakukan penyesuaian terhadap pos pengeluaran.

3. Evaluasi cash flow secara periodik
Semakin kita disiplin melakukan evaluasi, semakin cepat kita tahu apabila ada ketidakseimbangan didalamnya. Bila terjadi cash flow negatif, maka kita bisa melakukan 3 cara penyesuaian, yaitu kurangi pengeluaran, menambah penghasilan, atau lakukan dua-duanya sekaligus, kurangi pengeluaran & manambah penghasilan.

Menambah penghasilan bisa kita lakukan dengan mencari penghasilan tambahan seperti mengajar, menulis di media massa, atau bisa juga dengan memulai bisnis sampingan seperti membeli franchise yang tidak terlalu mahal dan lainnya. Dari sisi pengeluaran tentunya dengan melakukan penghematan, lihat lagi mana saja pengeluaran yang bisa dicoret dari daftar Anda.

Dengan memiliki cash flow yang baik maka kita berusaha untuk selalu disiplin dalam mengelola keuangan kita sendiri. Selalu melakukan kontrol terhadap pengeluaran merupakan suatu keharusan, karena umumnya pendapatan nilainya terbatas tetapi pengeluaran memiliki nilai yang tidak terbatas. Semakin besar pendapatan bukanlah jaminan untuk mengumpulkan kekayaan, karena bisa saja pendapatan makin besar tetapi kenaikan pengeluaran lebih besar dari peningkatan pendapatannya.

Memiliki cash flow yang baik dan positif merupakan langkah awal yang bagus untuk membuat rencana keuangan lainnya, seperti merencanakan biaya pendidikan, persiapan dana untuk pensiun dan sebagainya, untuk itu mulailah untuk berdisiplin dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran agar keuangan kita semakin baik dimasa depan.

Salam,
MULYONO PUTRO, RFA
Financial Planner Assistant
mulyono@finansiaconsulting.com

BISNIS PULSA SELALU UNTUNG?

September 9th, 2009

Sudah hampir 1 tahun ini dunia mengalami krisis monitor babak (konon katanya) kedua. Apakah Anda merasakan dampaknya? Mungkin sebagian besar menjawab ‘ya’ dan sebagian kecil menjawabnya ‘tidak’. Saya pun ikut mengamini yang mayoritas. Bohong kalau saya tidak merasakannya. “Masa sich Cak?”, sanggah beberapa teman. “Kan pulsa tetap dibutuhkan orang?” imbuh beberapa teman dengan argumen yang bisa diterima akal sehat.

Betul pulsa selalu dibutuhkan orang, bahkan mungkin lebih dubutuhkan dibanding makan. Bahasa gaulnya, ‘nggak makan nggak papa dech’, yang penting bisa telepon dan SMS. Tapi jangan salah, ada beberapa penyebab kenapa bisnis pulsa juga terkena dampak krismon.

Berikut ini pengamatan dan pengalaman saya kenapa penjualan pulsa terdampak oleh krismon:

1. Perang provider
Tidak bisa dipungkiri jumlah provider telekomunikasi yang banyak, apalagi provider pendatang baru, berusaha menggaet pelanggan dengan berbagai cara. Salah satu contoh yang kita rasakan, tarif menelepon menjadi murah. Terjadi lomba penurunan tarif. Contoh paling gampang, lihat saja dilayar televisi, klaim paling murah terus berlangsung. Setiap hari muncul iklannya. Hal ini saya nilai wajar karena privider dengan investasi dan biaya operasional yang besar bertahan untuk tetap “hidup” di tengah krisis.

Kabar baiknya untuk kita ssebagai pengguna adalah, dengan perang tarif ini, pelanggan yang akan diuntungkan. Biaya menelepon menjadi lebih murah. Dengan asumsi sebelumnya menelepon 1 jam dengan biaya 40 ribuan menjadi Cuma setengahnya bahkan ada yang seribu, gratis lah dan lain-lain.

Sementara untuk pengusaha voucher hasil akhirnya adalah: pelanggan belanja pulsa lebih hemat. Akibatnya adalah omzet pedagang menurun.

2. Banyaknya pesaing
Berjualan pulsa saat ini dianggap mudah. Semua orang yang punya HP bisa berjualan pulsa elektrik. Grosir pulsa fisik pun terus tumbuh. Apalagi jumlah pedagang eceran. Mungkin setiap hari, kalau di survey, ada beberapa pedagang baru. Siswa sekolah bisa berjualan. Karyawan, mahasiswa, pensiunan, ibu rumah tangga, bahkan banyak orang yang baru diPHK pun berjualan pulsa. Jadi persaingan makin sesak. Akibatnya adalah, kue yang dibagi terlalu kecil untuk masing-masing penjual, omset akan turun.

3. Efek domino PHK
Di kawasan industri, rumah kost banyak yang kosong. Pedagang warung nasi pun mengeluh sepi. Jumlah pekerja menurun. Jumlah belanja yang masih menjadi pekerja pun menurun, karena jam lembur berkurang tapi biaya bulanan meningkat. Salah satu efek dari ‘pengencangan’ ikat pinggang pun terasa di pembelian pulsa. Banyak korban PHK yang pulang kampung yang efeknya pembeli makin menurun. Akibatnya, pembelian pun turun dan penjual turun juga penjualannya.

Ngomong-ngomong, saya buka-bukaan sedikit tentang penurunan omset ini. Berapa kira-kira? Dari hasil bincang-bincang dengan teman-teman jumlahpenurunan omset ini variatif. Saya memberikan angka 25 s/d 50 %. Jadi rata2 di angka 35%.

Pertanyaan berikutnya, kapan akan Pulih? Semoga segera. Tetap OPTIMIS teman-teman. Yakinlah, BADAI PASTI BERLALU –mengenang alm. Chrisye.

Salam,
MASBUKHIN PRADHANA
Entrepreneur Specialist
masbukhin@finansiaconsulting.com

MEMPERSIAPKAN DANA CADANGAN

September 1st, 2009

Apa Itu Dana Cadangan?
Dalam kehidupan sehari–hari seringkali terjadi hal diluar perkiraan mulai dari  pengeluaran yang tidak terduga seperti sakit, sampai pemutusan hubungan kerja (PHK). Biasanya apa yang kita lakukan bila hal itu terjadi? Kalau sakit, pada umumnya kita mengambil tabungan. Bagaimana kalau yang terjadi adalah PHK? Pastinya dibutuhkan dana cukup besar untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari minimal sampai kita mendapat pekerjaan yang baru. Untuk itulah perlunya kita membentuk atau memiliki apa yang disebut Dana Cadangan.

Dana Cadangan merupakan sejumlah dana siaga yang bisa Anda gunakan bila terjadi hal-hal khusus diluar perkiraan Anda. Dana tersebut sebaiknya dialokasikan secara terpisah dan dipergunakan hanya untuk kebutuhan yang sifatnya darurat. Besaran dana cadangan ini bisa dihitung berdasarkan pengeluaran yang kita butuhkan setiap bulannya.

Berapa Besar yang Perlu Disiapkan?
Semakin besar dana cadangan yang dapat disiapkan tentunya semakin baik. Namun untuk mempersiapkan Dana Cadangan tersebut dapat berbeda bagi setiap orang atau keluarga, tergantung dari kondisi kebutuhannya.

Berikut adalah perkiraan yang dapat dijadikan sebagai referensi:
•    Untuk kebutuhan Dana Cadangan bagi perorangan yang belum menikah atau tidak memiliki tanggungan, membutuhkan sedikitnya sebesar 3 kali pengeluaran bulanan.
•    Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, kebutuhan Dana Cadangan sedikitnya sampai 6 sd 12 kali pengeluaran bulanan.
•    Untuk wirausaha, disarankan memiliki Dana Cadangan sedikitnya 12 kali pengeluaran bulanan.

Dimana Dana Cadangan Disimpan?
Dana Cadangan akan digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya darurat maka sebaiknya Dana Cadangan disimpan pada instrumen investasi yang memiliki beberapa kriteria yaitu:

1.    Resiko sangat rendah, karena kebutuhannya bersifat mendadak maka Dana Cadangan haruslah disimpan pada instrumen investasi yang tidak fluktuatif, artinya harganya tidak bergejolak apabila kita melakukan penarikan pada Dana Cadangan.
2.    Likuiditas tinggi, artinya Dana Cadangan dapat dengan segera dicairkan apabila dibutuhkan, dengan kata lain tidak membutuhkan waktu lama untuk menguangkan instrumen investasi tersebut.
3.    Keamanan Terjamin, dalam hal ini dana sebaiknya disimpan ditempat yang memiliki tingkat pengawasan keamanan yang tinggi, seperti Bank atau di lemari/ brankas rumah yang terkunci.

Apa Saja Instrumen Investasi Dana Cadangan?
Disamping memperhatikan kriteria dalam memilih instrumen investasi perlu dipertimbangkan pula instrumen investasi yang dipilih karena akan berhubungan dengan tingkat pengembalian/return investasi dari masing–masing instrumen investasi tersebut. Bila perlu Dana Cadangan dapat dialokasikan ke beberapa instrumen investasi sehingga mendapatkan return yang lebih optimal.

Berikut adalah instrumen investasi yang dapat dipilih untuk Dana Cadangan beserta kelebihan dan kekurangannya:

•    Tabungan yang disimpan di rumah
-Kelebihan: Likuiditas sangat tinggi
-Kekurangan: Tidak ada bunga, ada resiko pencurian
•    Tabungan di Bank
-Kelebihan: Likuiditas tinggi, tersedia ATM, sampai jumlah tertentu dijamin Pemerintah
- Kekurangan: Tingkat bunga rendah, ada biaya administrasi perbulan
•    Deposito
-Kelebihan: Tingkat bunga lebih tinggi, sampai jumlah tertentu dijamin Pemerintah
-Kekurangan: Apabila dicairkan sebelum jatuh tempo kena pinalti
•    Reksadana Pasar Uang
-Kelebihan: Tingkat pengembalian investasi lebih tinggi
-Kekurangan: Pencairan dana membutuhkan beberapa hari, harga bisa fluktuatif

Nah, apakah Anda sudah mempersiapkan Dana Cadangan? Bila belum, saat yang terbaik adalah SEKARANG!!

Salam,
MULYONO PUTRO
Financial Planner Assistant
mulyono@finansiaconsulting.com

August 16th, 2009

KENAPA ORANG GAGAL BERUTANG?
Oleh: Eko Endarto,RFA
Financial Planner

FINANSIA Consulting

Diambil dari: Tabloid KONTAN

Beberapa waktu lalu di media ini saya mendapatkan informasi yang cukup mengejutkan. Tingkat kredit bermasalah (NPL) di beberapa bank khususnya untuk kredit konsumtif terus menunjukaan peningkatan, yang berarti makin banyak utang yang telah dilepas ke masyarakat ternyata bermasalah.

Awalnya  saya mengira hal itu wajar saja mengingat kondisi ekonomi saat ini. Tapi bagaimanapun, hal tersebut tidak bisa menjadi pembenaran bila utang kita bermasalah selalu berarti disebabkan kondisi ekonomi. Karena banyak juga terjadi utang bermasalah bukan karena ekonominya, tapi karena individu peminjamnnya yang salah dalam mengelola utang sehingga gagal lah orang itu dengan utangnya. Kenapa kita bisa gagal?

Mari kita bahas sedikit beberapa kesalahan peng -’utang’.

1.    Salah Memilih Produk

Seperti juga produk yang memberikan hasil, produk utang juga memiliki banyak jenis. Ada utang yang dibuat untuk membantu si peminjamnya untuk pembiayaan  usaha. Ada lagi produk utang yang memang diciptakan untuk pembiayaan rumah, ada untuk pembiayaan profesi, kendaraan, dan lain sebagainya. Banyak orang mengambil utang dengan hanya melihat berapa besar dana yang diperolehnya dan seberapa mudahnya utang tersebut cair. Padahal harus selalu diingat, makin mudah utang itu cair, maka akan makin tinggi risiko yang ditanggung pihak bank, dan sebagai konsekuensinya mereka akan meningkatkan bunga sebagai kompensasi atas risiko yang siap dia terima. Kalau Anda sempat, bandingkan antara utang untuk KPR dengan syarat yang “katanya” rumit dan membutuhkan jaminan, dengan kredit serba guna yang juga bisa untuk beli rumah tapi tanpa syarat berbelit dan jaminan. Mana lebih tinggi?

Jadi kalau berhutang, berhutanglah menurut kebutuhannya. Kalau untuk usaha carilah kredit untuk usaha, kalau untuk rumah adalah lebih baik dan menguntungkan bila kita ambil kredit pemilikan rumah, dan untuk pembiayaan konsumtif  dan barang yang tidak bisa dijadikan jaminan, bolehlah gunakan kredit tanpa jaminan sebagai produknya.

2.    Salah Mempergunakan Utang

Utang diartikan sebagai penggunaan hak sebelum waktunya, dan kredit diartikan sebagai pembayaran yang ditunda. Utang dan kredit diciptakan pada dasarnya untuk membantu seseorang memperoleh hak sebelum waktunya, dan melunasinya atau membayarnya kemudian. Jadi pada dasarnya kita boleh berutang dengan dua syarat utama yaitu pertama kita boleh berutang bila memiliki dana untuk membayarnya dikemudian hari  dan kedua kita boleh berutang bila kita yakin dan komit akan ada sumber dana yang akan masuk dikemudian hari untuk membayarnya. Dengan demikian, seharusnya sebelum orang memutuskan untuk berutang, dia telah meyakini mampu melaksanakan satu diantara dua syarat di atas. Jadi kalau sudah begitu tidak akan mungkin terjadi kegagalan dalam berutang. Tapi kenapa hal ini tidak bisa dilaksanakan ? karena sebagian orang menganggap utang sebagai tambahan uang tunai.Apa buktinya ? gampang. Coba perhatikan pola keuangan kita, pada waktu kita memutuskan untuk menggesek kartu kredit kita, kenapa tidak langsung melunasinya? pada saat gajian? atau bila tahu kita tidk mampu untuk membayar utang yang pertama kenapa harus menambah utang baru? mari sama-sama renungkan.

3.    Salah Memilih Tempat Berutang

Seperti telah diuraikan di atas, utang yang cenderung gagal atau macet adalah utang yang sifatnya konsumtif. Padahal utang tersebut berbunga tinggi dan berjangka waktu pendek. Artinya kalau kita gagal mengelolanya, jangan harap utang itu bisa selesai. Sangat banyak orang yang bermasalah di utangnya, kemudian berutang kembali untuk menyelesaikannya. Hal itu diperbolehkan. Namun masalahnya mereka memilih tempat berutang yang salah. Beberapa orang menyelesaikan utangnya dengan meminjamnya dari tempat yang sama artinya mengambil uang tunai untuk melunasi utangnya. Padahal saya kira kalau saya beri pertanyaan ini Anda pasti bisa menjawabnya dengan benar, mana yang lebih tinggi, bunga pembelanjaan atau penarikan tunai ? Kalau begitu, apakah tepat memilih penarikan tunai sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan utang karu kredit Anda ? Jawab sendiri….

4.    Salah Manajemen Utang

Kadangkala orang tidak sadar bahwa permasalahannya di utang karena orang tersebut salah mengelola(memanage) utang itu. Kita tidak membicarakan cara penggunaan di sini, tapi kita ingin bicara mengenai manajemen kita mengambil utang.
Seorang klien pernah mengeluh bahwa dia stress dengan utang yang dimilikinya. Total angsuran yang menjadi kewajibannya hanya 35% dari total penghasilannya. Jadi secara ilmu perencanaan keuangan, memang sudah lebih, tapi masih dalam tahap lampu kuning atau masih bisa ditoleransi. Dia memiliki 6 jenis utang, mulai dari 3 utang kartu kredit, utang KPR untuk rumah, utang KPM di leasing dan utang KTA untuk renovasi rumah. Kita tidak usah mempermasalahkan kesalahnnya dalam mengambil produk, karena toh angsurannya tidak melebihi jauh dari ketentuan yaitu 30%.
Tapi kenapa dia bermasalah dengan utangnya?

Hal ini terjadi karena tagihan utang tersebut tidak diatur dengan baik. Hampir di tiap minggu selalu ada tagihan dari utang-utangnya. Minggu pertama kartu kredit 1 dan KPM, minggu ke dua kartu kredit 2 dan KTA, minggu ke tiga tagihan KPR dan minggu keempat, tagihan kartu kredit 3 muncul. Jadi hampir tiap minggu dia menerima tagihan utang. Apa masalahnya? masalahnya adalah klien saya ini bukanlah orang yang terbiasa dengan disiplin. Maksudnya, memang dia sudah mencadangkan semua kewajibannya di awal sesaat setelah gajian dengan cara memisahkannya dalam amplop khusus. Masalahnnya, karena tanggal tagihan utang-utangnya selalu ada tiap minggu, maka ada kalanya sebelum tagihannya datang, ada keperluan “mendadak” atau pengeluaran mendadak yang harus terjadi. Uang apa yang digunakan ? ya uang untuk pembayaran utang tadi. Artinya uang untuk kewajiban digunakan dulu untuk menalangi “kebutuhan” tadi,dan sebagai akibatnya, dia harus menggantinya. Disini masalahnya. Janji tingal janji dan pembayaran pun tertunda. Akibatnya pada saat jatuh tempo, uang untuk membayar sudah habis, dan jalan keluar, da haruscari utangan baru untuk mebayar utangnya yang terakhir itu. Jadi masalah utamanya bukan di utangnya, tapi kesalahan menegelola utang tersebut.

Untuk Anda yang ingin dan berencana berutang, saran saya aturlah tanggal pembayaran seluruh utang Anda tidak jauh dari tanggal gajian Anda. Ini penting agar setelah Anda menerima gaji, utamakan pembayaran kewajiban dan baru menghbiskannya untuk kebutuhan lain. Sehingga pada saat dibutuhkan uang kewajiban itu tidak hilang karena “dipinjam” dulu oleh pos-pos lain.Tapi bagaimana bila ada kebutuhan dan uang habis ? ya boleh saja Anda berutang, dengan konsekuensi pembayaran tagihan di bulan berikutnya harus lebih besar.

Memutuskan untuk mengembil utang bukanlah suatu kesalahan, tapi mengambil utang tanpa perhitungan yang matang akan menjerumuskan. Jangan sampai hal buruk itu terjadi, saya berharap Anda semua bukan salah satu diantara peng-Utang’ dengan kesalahan di atas.

August 16th, 2009

BIAYA PENDIDIKAN
Dengan Apa Mempersiapkannya ?
Oleh : Eko Endarto
Financial Planner

FINANSIA Consulting

Dimbil dari: Tabloid KONTAN

Minggu ini semua anak kelas 3 SMU sedang di pusingkan dengan UAN atau Ujian akhir Nasional. Pada salah satu wawancara yang dilakukan oleh sebuah televisi swasta terekam suatu pernyataan berikut:

Reporter : “Bagaimana Dik sudah siap dengan ujiannya ? kalau lulus apa rencana selanjutnya?
Kalau siap sih ya harus disiap-siapkan kak, namanya juga ujian. Setelah lulus nggak tau mau gimana secara biaya kuliah sekarang mahal, nggak yang swasta nggak yang negeri.” Si pelajar menjawab pertanyaan si reporter sambil sesekali memperbaiki susunan rambutnya.

Biaya pendidikan khususnya pendidikan tinggi memang bukan barang murah. Bukan rahasia umum lagi bahwa biaya masuk perguruan tinggi menjadi salah satu biaya yang menguras sebagian kekayaan keluarga. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan biaya besar ini. Dan tentunya hal ini seharusnya memang dipersiapkan dari jauh hari karena biaya pendidikan bukan salah satu pengeluaran mendadak kan?

Mempersiapkan Biaya Pendidikan

Kalau saat ini si anak sedang sibuk mempersiapkan fisik dan mental agar bisa lulus dari UAN, maka si orang tua biasanya saat ini juga sibuk memikirkan bagaimana bisa menyediakan biaya untuk keperluan si anak melanjutkan pendidikannya. Sebagian mungkin sudah mempersiapkannya. Walaupun jumlahnya bisa saja berlebih atau kurang. Minimal sudah lebih baik dibandingkan tidak ada persiapan sama sekali. Secara gampang, mempersiapkan biaya pendidikan bisa dilakukan dengan dua langkah inti sebagai berikut :

1. Mengetahui biaya yang dibutuhkan kelak
Langkah pertama yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak kita adalah dengan mengetahui berapa besar biaya pendidikannya kelak. Biaya pendidikan saat ini besarannya pasti berbeda dengan saat anak kita bersekolah kelak jadi ketahui berapa biayanya saat ini, berapa besar kira-kira asumsi kenaikannya, dan hitung berapa besar total biaya tersebut bila tiap tahun biaya pendidikan naik seperti asumsi yang kita buat.

2. Pilih produk investasi yang cocok untuk digunakan
Setelah mengetahui berapa besar sasaran yang ingin dicapai, maka saatnya memilih produk untuk mencapai tujuan tersebut.Seperti ulasan-ulasan saya terdahulu, dalam memilih produk, seyogyanya kita memperhatikan jangka waktu pencapaian tujuan keuangan kita. Untuk biaya pendidikan yang akan dicapai dalam waktu pendek, maka carilah produk investasi jangka pendek. Dan untuk tujuan biaya pendidikan jangka panjang, produk investasi jangka panjang juga jawabannya.

Memilih Produk Investasi

Pertanyaan ini selalu ada tiap kali saya membicarakan produk investasi. Sekali lagi produk investasi harus dipilih berdasarkan jangka waktu pencapaian tujuan tersebut. Bila kita berbicara tentang produk investasi untuk pendidikan, pada dasarnya ada 2 bagian besar yaitu :

1. Produk berpenghasilan tetap
Produk investasi ini biasanya menawarkan adanya imbal hasil atau penghasilan yang bersifat tetap. Contoh yang paling mudah adalah tabungan pendidkan dan asuransi pendidikan. Dikatakan tetap karena produk ini memberikan hasil yang konsisten bisa berupa jumlahnya maupun frekuensinya. Ada banyak sekali produk dengan jenis seperti ini mulai dari tabungan biasa, deposito dan lain sebagainya.Saat ini saya ingin membahas 2 produk berpenghasilan tetap yang biasanya berkonotasi pendidikan yang ada di pasaran .

Produk Tabungan pendidikan sebenarnya adalah produk tabungan berjangka; artinya terdapat jangka waktu yang diperjanjikan antara si penabung dan bank dimana kita sebagai penabung tidak diperbolehkan melakukan penarikan sebelum jangka waktu yang telah disepakati. Kelebihan produk ini adalah hasil investasi yang bersifat tetap frekuensinya tiap bulan. Jadi di produk ini kita akan mendapatkan bunga yang dibayarkan tiap bulan secara periodik sampai dengan jangka waktu tertentu yang disepakati misalnya pada saat usia anak 6 tahun, 12 tahun dan seterusnya. Bunga yang ditawarkan biasanya lebih tinggi daripada produk tabungan biasa, tanpa ada macam-macam biaya administrasi dan operasional seperti ATM karena memang produk ini bukan produk yang likuid seperti produk tabungan biasa. Kelemahan produk ini adalah bunga yang biasanya mengikuti bunga pasar. Artinya bila bunga di pasaran turun, bisa saja hasil yang diperoleh si nasabah turun. Jadi tidak ada kepastian dalam hal jumlah.

Produk Asuransi Pendidikan sebenarnya adalah produk asuransi jiwa namun dengan tambahan manfaat berupa hasil investasi yang jumlahnya telah ditentukan di awal. Produk ini biasa disebut dengan asuransi dwiguna atau endownment artinya disamping memberikan proteksi, produk ini juga memberikan tambahan manfaat berupa hasil investasi. Perbedaan dengan produk unit link adalah pada hasil investasinya. Pada produk dwiguna ini hasil investasi telah ditentukan di awal dimana kita sudah tahu sejak awal dengan pasti berapa yang akan kita peroleh kelak. Sedangkan pada produk unitlink,hasil investasi tidak bisa ditentukan di awal karena pertumbuhannya sangat tergantung bagaimana si manajer investasi mengolah dana yang kita investasikan.

Kelebihan produk ini seperti saya telah sebutkan di atas adalah kepastian dalam jumlah hasil. Biasanya sejak awal pihak asuransi sudah memberikan gambaran berupa jumlah dana yang bisa diambil atau hasil investasi yang bisa digunakan. Misalnya saat anak berusia 6 tahun akan mendapatkan Rp.5 juta, saat 12 tahun dapat 12 juta dan seterusnya. Namun tetap memiliki kelemahan. Produk ini tidak tanggap terhadap inflasi. Padahal kenaikan biaya penddidikan juga dipengaruhi oleh inflasi. Bila di produk tabungan pendidikan bunga bisa naik atau turun sesuai dengan keadaan pasar, maka di produk ini tidak. Hasil telah ditentukan di awal. Jadi bila kenaikan biaya pendidikan di atas hasil investasi kita, maka bisa terjadi pada saat dibutuhkan dana tersebut tidak lagi mencukupi.

2. Produk Berpenghasilan Bertumbuh
Produk investasi ini menawarkan hasil dari proses jual dan beli. Biasanya hasil berupa laba atau bagi hasil. Produk termasuk dalam jenis ini adalah emas, tanah, saham, reksadana , unit link dan sebagainya.
Produk ini memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dari produk berpenghasilan tetap. Ini karena perkembangan hasil tergantung dari permintaan dan penawaran. Jadi bisa saja harga jual menjadi sangat tinggi karena banyaknya permintaan. Namun kelemahannya adalah bisa terjadi harga bukan naik tapi malah turun. Ini bisa terjadi karena penawaran lebih tinggi dari permintaan sehingga harganya turun. Namun beberapa produk investasi sejenis ini biasanya untuk jangka panjang akan mengalami kenaikan karena mengikuti inflasi atau kelangkaan . Misalnya emas,tanah, saham, reksadana dan sebagainya.

Kesimpulan

Untuk mempersiapkan biaya pendidikan, kita bisa menggunakan 2 jenis produk yaitu pendapatan tetap atau bertumbuh. Karena pendapatan tetap memberikan kepastian walaupun hasilnya tidak begitu besar, maka gunakan produk ini untuk tujuan biaya pendidikan jangka pendek. Sedangkan produk pertumbuhan, walaupun hasilnya tinggi tapi untuk jangka pendek sangat berisiko karena dimungkinkan terjadinya penurunan nilai investasi. Jadi gunakan ini untuk tujuan biaya pendidikan jangka panjang.

August 16th, 2009

JANGAN ASAL AMBIL PROTEKSI
Oleh: Eko Endarto, RFA
Financial Planner
FINANSIA Consulting

Diambil dari: Tabloid Kontan

Asuransi ini memberikan uang pertanggungan sampai dengan 100 juta pak, dan perlindungannya berlaku sampai dengan Anda berusia 99 tahun,” demikian sedikit penggalan kalimat dari percakapan saya dengan agen asuransi yang menawarkan produknya kepada saya.

Memiliki proteksi adalah salah satu kelengkapan mutlak dalam perencanaan keuangan. Rencana investasi yang sudah sempurna tidak akan lengkap tanpa adanya proteksi.Mengapa? Sebab adalah sia-sia suatu investasi bila ternyata setelah susah payah,hasil investasi yang diperoleh habis untuk menutupi segala risiko yang terjadi pada kita.

Apapun yang menjadi pilihan, baik itu berupa proteks yang murni atau proteksi dengan tambahan investasi, keduanya tidak menjadi masalah karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri (kita tidak akan membehasnya saat ini).Namun demikian, dalam mengambil proteksi kita juga jangan sampai salah, Percuma Anda mengantisipasi risiko dengan proteksi bila ternyata proteksi yang didapat tidak berguna saat dibutuhkan. Untuk itu, saran kecil ini mungkin bisa dijadikan dasar agar tidak asal memilih asuransi.

Pilih sesuai kebutuhan

Ini adalah saran awal dalam mengambil proteksi. Kayanya kalimat ini sangat mudah, karena pasti semua orang butuh proteksi atau perlindungan. Namun apakah benar tidak ada yang salah dalam memutuskan mengambil asuransi?

Seorang ibu memutuskan untuk mengambil asuransi kesehatan untuk suaminya yang memang menjadi tulang punggung utama di keluarga sebagai sumber nafkah. Kalau kita hanya baca sekilas, sepertinya tidak ada yang salah dengan pilihan si ibu. Tapi coba kita bahas lagi lebih dalam. Apakah proteksi yang dipilih si Ibu sudah sesuai dengan kebutuhan? Apa artinya? begini, proteksi memang benar melindungi,tapi ini bisa diterima bila si penerima manfaat memang tidak memiliki proteksi dari tempat lain. Jadi kalau misalnya si Bapak mendapatkan proteksi dari kantornya, maka yang dilakukan si Ibu adalah suatu kesalahan karena risiko yang diterima si bapak telah tercover oleh perusahaan tempatnya bernaung dan pihak asuransi tidak akan mau menanggung risiko itu lagi. Jadi kalau si Ibu mau membuat asuransi untuk si Bapak, mungkin dia tidak mengambil proteksi dengan skim penggantian, tapi dengan skim santunan karena skim santunan bersifat seperti membantu bukan memindahkan risiko.
Banyak orang juga salah mengambil asuransi kerugian. Beberapa orang mengambil asuransi hanya berdasarkan kemauan si penjual atau agen bukan kebutuhannya. Misalnya asuransi kerugian untuk rumah. Biasanya si agen tidak hanya menjual asuransi kebakaran tapi juga tambahan lainnya misalnya risiko kebanjiran. Beberapa dari kita tidak sadar apakah itu kita butuhkan atau tidak. Bila tempat tinggal kita terletak cukup tinggi dan sejarah membuktikan bahwa lokasi tersebut sangat kecil kemungkinan untuk terkena banjir, tambahan klausa risiko banjir tidak perlu diambil.

Perhitungkan untuk yang ditinggalkan bukan untuk Anda

Seorang peserta seminar pernah bertanya apakah dirinya sebagai seorang bujangan perlu untuk mengambil asuransi jiwa. Asuransi dibentuk sebagai sarana peralihan risiko kepada perusahaan penyedia jasa perlindungan dalam hal ini pihak asuransi bila terjadi risiko atas nama si klien. Kalau berbicara asuransi jiwa, maka yang menerima manfaat atas perlindungan jiwa bukanlan klien yang namanya tercantum pada polis, tapi pewaris atau penerima manfaat atas risiko tersebut. Jadi kalau Anda bertanya apakah seorang bujangan butuh asuransi? Tentu jawabannya tergantung apakah si bujangan tadi memiliki tanggungan atau tidak. Bila si bujangan sehari-harinya menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya dalam hal ini mungkin ayah, ibu dan adik atau kakaknya, maka dia memamg butuh yang namanya asuransi jiwa. Tapi kalau dia sehari-harinya tidak menjadi tangungan keluaganya, maka asuransi jiwa tidak dibutuhkan oleh mereka yang bujangan.

Demikian juga untuk anak-anak. Ada beberapa keluarga membuatkan asuransi jiwa untuk anaknya. Kalau dibilang salah sih tidak, tapi tidak tepat. Karena seperti juga bujangan, anak-anak tersebut secara ekonomi bisa dikatakan tidak memiliki nilai ekonomii karena bila si anak tidak ada, ekonomi yang ditinggalkan tidak akan mengalami masalah. Jadi untuk si anak, daripada asuransi jiwa, mungkin lebih baik ambil asuransi kesehatan atau pendidikan.

Berapa angka pertanggungannya? Tentunya harus diperhitungkan berapa besar kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Usahakan agar bisa memenuhi kebutuhan bulanan mereka seperti saat si penanggung tersebut masih ada.

Sesuaikan dengan jamannya

Ini juga yang sering salah. Banyak orang mengambil asuransi hanya sekali dan kemudian sudah merasa asuransi itu sudah cukup. Seperti cerita di awal,uang pertanggungan Rp.100 juta memang saat ini banyak dan cukup. Tapi bagaimana bila risiko terjadi bukan saat ini tapi 20 tahun ke depan? Apa jadinya dengan uang 100 juta tadi? Anda pasti bisa menjawabnya.

Jadi dalam mengambil asuransi harus diperhitungkan dengan benar. Sesuaikan dengan jamannya dan selalu dilakukan evaluasi apakah nilai pertanggungan tersebut mencukupi atau tidak kelak bila terjadi risiko. Mungkin anda akan bertanya apakah saya berarti harus mengamlbil asuransi besok-besok saja, dan bukan sekarang ? salah. Karena risiko tidak bisa kita duga maka makin cepat diambil akan makin baik. Kalau tidak cukup ? nah ini yang mungkin tidak kita mengerti, seharusnya asuransi memang diambil secara berkesinambungan misalnya saat ini di ambil, bisa jadi 3 tahun ke depan Anda akan mengambil lagi untuk menambah nilai uang petanggungan yang sudah Anda ambil 3 tahun lalu karena nilainya sudah tidak sesuai lagi. Jadi jangan heran kalau orang punya beberapa polis asuransi, bukan karena tidak mengerti, tapi bisa jadi karena mereka harus menyesuaikan dengan jamannya.

Kesimpulan

Proteksi adalah bagian dari perencanaan keuangan, rencana yang baik tetap saja akan menjadi suatu kesia-siaan bila tidak ada proteksi yang menjamin kelangsungan rencana tersebut bisa tetap jalan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Tapi proteksi yang diambil juga jangan asal, tiga hal mudah bisa menjadi pegangan, ambil sesuai kebutuhan, perhitungkan untuk mereka yang membutuhkan, dan sesuaikan dengan jamannya.