Minggu pertama puasa telah kita lewati, selamat! Lewat sudah ujian minggu pertama bagi kita. Lapar, haus dan menahan emosi sudah kita lakukan; dan pastinya nggak lupa mengalokasikan untuk membayar zakat kan? Setiap agama pasti memiliki istilah khusus untuk zakat, untuk memudahkan kita akan menyebutnya menjadi berbagi.
Dalam perencanaan keuangan modern khususnya yang berasal dari luar negeri alokasi berbagi tidak masuk dalam perencanaan pengeluaran. Tapi apakah di Indonesia hal itu bisa dilakukan? Di negara yang religiusitasnya menjadi bagian dari kehidupan rakyatnya, berbagi sudah menjadi kewajiban di setiap keyakinan yang ada di Indonesia. Lalu, bagaimana prioritas pengeluarannya?
Ini dia urutannya dan persentase yang dapat dijadikan referensi:
1. Sosial keagamaan: 10%
2. Cicilan utang: 30%
3. Investasi dan proteksi: 20%
4. Kebutuhan hidup: 40% (sisanya)
Masalahnya sekarang apakah alokasi ini mendukung tujuan keuangan kita? Apakah tidak membuat kita tekor? Kalau hanya berbicara mengenai angka dan jumlah pasti akan merasa rugi karena hilangnya sejumlah dana akibat berbagi tadi.
Tapi dari segi ‘nilai’ saya bisa sedikit memberikan gambaran :
1. Dengan berbagi secara iman kita merasa lebih sehat. Ada ungkapan bagus yang saya dapatkan dari ceramah yang saya dengarkan menjelang berbuka tadi sore,”Sedekah bukan kehilangan bagi kita karena sebenarnya uang tersebut adalah titipan Allah yang dipercayakan kepada kita untuk dibagikan.” Dan,”Jangan merasa sayang dengan uang yang kita dermakan/sedekahkan karena itu memang rejeki mereka yang diberikan Tuhan melalui kita.”
2. Dengan berbagi kita menjadi orang yang tidak boros. Alokasi awal yang disisihkan di awal menjadi pelajaran baik untuk kita agar tidak bersifat boros. Banyak orang menjadi boros akibat tidak mengalokasikan uangnya dengan jelas. Pokoknya semua pengeluaran dilakukan asal ada uangnya. Padahal penghasilan kan terbatas dan pengeluaran tak terbatas
3. Dengan berbagi kita akan menjadi kaya. Salah satu ciri orang kaya adalah memiliki dana lebih yang bisa dialokasikan dengan baik. Kalau Anda baru bisa mengalokasikan dana Anda untuk kebutuhan Anda sendiri dan keluarga, itu sih sudah biasa. Tapi kalau Anda sudah bisa mengalokasikan dana khusus untuk orang lain, itu baru luar biasa kaya. Jadi walaupun gaji kita kalah sama pimpinan kita, kalau dia tidak bisa bebagi sementara kita bisa, maka saya katakan kita lebih kaya.
4. Percaya atau tidak, telah banyak bukti memperlihatkan dengan berbagi orang menjadi lebih teratur keuangannya. Kenapa? karena dengan berbagi dia melihat orang lain di bawah(tidak mampu) sehingga selalu bersyukur dengan apa yang telah diberikan. Kunci utama keberhasilan keuangan adalah bagaimana kita mensyukuri atas apa yang sudah diberikan yaitu dengan mengelolanya menjadi cukup.
Jadi pengeloaan keuangan tanpa berbagi, mungkin kita harus mereview lagi ilmu perencanaan keuangan kita, karena berbagi tidak selalu mengurangi kok!
Salam,
EKO ENDARTO
Financial Planner
eko@finansiaconsulting.com
